Berita PKS

Mahfudz Abdurahman Jawab Gosip-gosip Soal PKS

25 Feb 2020 | 13:53 WIB

Share: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

thumbnail

Bekasi -- Bendahara Umum DPP PKS Mahfudz Abdurrahman menjawab gosip-gosip tentang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang beredar dan melekat di benak masyarakat.

Hal ini ia sampaikan di hadapan ratusan warga masyarakat Kota Bekasi yang mengikuti Training Orientasi Partai Keadilan Sejahtera (T.O.PKS) di Bella Vista Pondokgede, Ahad (23/2/2020).

Ia mengungkapkan, para pendiri Partai Keadilan Sejahtera membawa semangat Islam yang Rahmatan Lil Alamiin ketika mendirikan partai ini dan mengikuti pemilu pertama kali dengan nama Partai Keadilan di tahun 1999.

“Kita mendemonstrasikan nilai-nilai Islam Rahmatan Lil alamin dan kemanusiaan,” ujar Anggota DPR RI dari Dapil Kota Bekasi-Kota Depok ini saat memberikan sambutan.

Salah satu gosip negatif tentang PKS yang selalu dihembuskan di masyarakat adalah intoleran. Tokoh Betawi Bekasi ini membantah hal itu. Ia memaparkan, dalam praktiknya, kader PKS bisa diterima dan berbaur dimanapun berada. Bukan hanya di tanah air, tetapi juga diluar negeri.

Hal itu, kata Mahfudz karena kader PKS mampu menunjukkan kredibilitasnya. Antara lain kredibilitas moral, sosial, intelektual, operasional dan politik.

Selain stigma intoleran, PKS juga sering disebut partai yang memiliki ideologi garis keras, pendukung teroris dan stigma negatif lainnya.

“Padahal di tahun 2008 saja, PKS ini satu-satunya partai yang paling rapi dan memenuhi seluruh persyaratan administrasi,” katanya.

PKS justru sangat sibuk saat terjadi bencana alam di berbagai wilayah Indonesia.

“Inilah bapak ibu sekalian, latar belakang kemunculan PKS di negeri ini sebagai partai dakwah. Oleh karena itu, Training Organisasi ini merupakan satu bagian pengenalan tentang PKS kepada publik, agar tahu lebih dalam soal PKS,” ujar Mahfudz.

Mahfudz sendiri mengaku lega karena saat ini PKS mendapat pengakuan dari publik sebagai oposisi dan punya integritas. Meskipun stigma buruk masih terus diembuskan pihak-pihak yang tak bertanggungjawab.

Tentang stempel intoleran, sederhananya, kata Mahfudz masyarakat bisa menilai, di negeri mayoritas Islam, minoritas tak diusik, tak dituntut. Dengan kata lain, aman.

Di tubuh PKS sendiri, kata Mahfudz terdiri dari berbagai kalangan, bahkan berbagai ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan lain-lain. Bahkan beberapa waktu lalu, PKS disambangi para tokoh NU Jawa Timur untuk berdiskusi tentang kepartaian dan kebangsaan. Jadi ia menegaskan stigma yang terlanjur beredar sebetulnya bisa ditepis seiring waktu karena kenyataannya masyarakat hanya belum mengenal partai ini.

“Semoga dengan acara TOPKS ini, bapak ibu sekalian bisa memahami bagaimana PKS ini. Mudah-mudahan TO ini bisa memperkaya wawasan soal PKS, partai berbasis kader dan perjuangan dakwah Islam,” tukasnya.