Berita PKS

PKS : Presiden Jokowi Jangan Diam, Ada Pembuangan Jenazah ABK Indonesia Kembali di Laut Somalia oleh Kapal Ikan Cina

18 May 2020 | 13:07 WIB

Share: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

thumbnail

Semarang - Berita duka dari ABK Indonesia kembali terjadi. Belum sepakan kejadian serupa terjadi. Kali ini menimpa Herdianto yang sakit, mengalami kematian di atas kapal Luqing Yuan Yu 623 dan dilarung di laut Somalia pada hari sabtu 16 Mei 2020.

Kabar ini diinformasikan oleh Moh Abdi Sufuhan Kornas Destructife Fishing Watch Sebelum mengalami kematian, Herdianto terindikasi mengalami penganiayaan, tindakan kekerasan fisik, yakni pukulan dan tendangan dengan menggunakan pipa besi, botol kaca, dan setrum.

"Kapal Ikan Cina sudah berulang kali melakukan perbudakan dan kejahatan kemanusian, sepakan 2 kejadian ABK meninggal dan dibuang ke laut. Indonesia harus mengutuk keras kejadian berulang ini" Kata Riyono Ketua DPP PKS Bidang Pekerja Petani dan Nelayan

Saat ini kondisi ABK kapal Luqing Yuan Yu 623 tersebut dipindahkan ke kapal Lu Huang Yuan Yu 115. Pada saat kejadian meninggalnya Herdianto, para ABK meminta kembali ke ke darat tapi tidak di perbolehkan oleh nakhoda dan tetap melakukan kegiatan penangkapan ikan.

Selain Herdianto masih ada 22 ABK yang saat ini berada dalam kondisi yang belum tentu aman serta sehat. Keterangan DFW saat ini kapal Lu Huang Yuan Yu 115 dalam perjalanan ke Cina. Selain kapal Lu Huang Yuan Yu 115, ada kapal berbendera Cina lain yang mempekerjakan ABK Indonesia yaitu LQYY 622, LQYY 623, dan LQYY 625 yang berjumlah 22 orang.

"Presiden Jokowi jangan diam, panggil Dubes Cina kembali dan pastikan usut tuntas kasus ke 2 ini. Kasus 1 saja baru saja dilaporkan ke PBB, sekarang muncul kasus serupa, ini namanya Cina menyepelakan Indonesia" tegas Riyono

PKS mengusulkan kepada Jokowi untuk segera meratifikasi segera Konvensi ILO 188 tahun 2007 tentang penempatan ABK di luar negeri, moratorium pengiriman ABK sampai 2 kasus diatas selesai, dan Presiden harus segera menyatukan semua regulasi soal ABK yang masih tumpang tindih di Kemenaker, Perhubungan dan BP2MI.