Berita PKS

Kapolsek Sorong Kota Hadir Sebagai Narsum Sekolah Cinta Indonesia

25 Nov 2020 | 13:18 WIB

Share: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

thumbnail

SORONG -  Dua Ratus peserta hadir pada acara Sekolah Cinta Indonesia yang diprakarsai DPD PKS Kota Sorong, Senin (23/11). Acara yang digelar di Ballroom Hotel Vega menghadirkan Dr. Mardani Ali Sera, M.Eng, selaku ketua DPP  PKS sebagai pembicara utama.

Selain Mardani, narasumber  SCI juga diisi oleh Kompol Muhammad Salim Nurlily, S.IP.,M.H. yang juga menjabat sebagai Kapolsek Sorong Kota. Pada  malam itu membawakan materi nilai kebangsaan. Dengan gaya penyampaian yang santai, Muhammad Salim memberikan pemahaman bagaimana seorang muslim harus mencintai Indonesia dengan mengaplikasikan nilai-nilai pancasila.

“Pancasila hanya milik Indonesia, pancasila menjadikan Indonesia menjadi sangat unik, dan mencerminkan cita-cita luhur bangsa Indonesia,” ucapnya membuka diskusi.

Ia pun melanjutkan munculnya konflik yang terjadi selama ini di wilayah Papua dan beberapa daerah lainnya dipicu permasalahan SARA yang tidak selaras dengan nilai keunikan dalam pancasila.

“Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang banyak mengalami konflik dan bencana, masyarakat Indonesia harus mempersiapkan basis kekuatan dan persatuan rakyat untuk menghadapi konflik dan potensi konflik yang muncul. Di mulai dari kelompok yang paling kecil masjid misalnya,” papar Salim, panggilan akrabnya.

Salim juga mengingatkan kepada para ustadz, pendakwah dan umat muslim yang berjihad di dunia politik untuk tetap menjaga amanat dengan menukil salah satu ayat dalam Quran surat Ash Shaf.

“Tolong diingat, kepad para pendakwah, muslim yang masuk dalam bidang politik, tetaplah konsisten menjaga amanah dan membawa kebaikan. Jangan ada tendensi apapun. Ingat Kaburo Maktan ‘indaallahi antaqulu ma laa taf’luun. Sungguh besar murka Allah kepada mereka yang tidak mengerjakan apa yang mereka katakan,”lanjutnya.

Menutup materinya ia menyampaikan pesan umat Islam harus berjuang mengawal keutuhan NKRI dengan menjaga ruh perjuangan para ulama.

 “Indonesia butuh orang orang baik yang tidak memiliki tendensi dan benar benar mewakili rakyat dan mengawal cita-cita besar Indonesia di masa depan, jaga ruh perjuangan ulama pendahulu,” pungkasnya.