Para Kartunis Beberkan Pengalaman di Ngaji Budaya PKS Edisi 11
Jakarta (16/8) - Para kartunis berbagi pengalaman selama mereka menjabani dunia kartun di gelaran Ngaji Budaya Sesi 11 bertajuk "Jadi Kartunis Idealis Penghasilan Maksimalis".
Seto Buje, yang memiliki akun kartun Si Bedil, mengaku memakai nama Si Bedil karena soal keunikan. Sengaja dirinya tak memakai nama Islami meski kontennya kental dengan keislaman.
"Proses kreatif khusus untuk media sosial banyak konten negatif. Perlu banyak konten-konten positif yang mengimbangi. Saya memilih nama Bedil, pengin nama unik, komik religi kalau nama Islami sudah umum, makanya mau agak beda," kata Seto di DPP PKS, Jakarta Selatan, Jumat (16/8/2019).
Banyaknya media sosial dan platform digital komik sehingga mudah diakses, menurutnya, makin banyak cara pesan visual yang bisa disampaikan.
"Setiap ada isu kebanyakan teman-teman memilih berdebat. Saya lebih memilih untuk berkarya," kata pria yang Buje-nya akronim dari Bujangan Jenggotan.
Berbeda dengan Seto, kartunis Ipotsky mengaku lebih banyak dilamar ketimbang melamar dalam hal pekerjaan.
"Pinginnya jualan burger tapi memilih jadi kartunis akhirnya. Saya lebih sering dilamar daripada melamar. Giliran bosan kerja kantoran, saya keluar pilih jadi freelancer. Pas bosen freelancer eh dapat kerjaan," kata pria yang pernah kerja di production house Falcon itu.
Soal apakah bisakah hidup lewat kartun, para kartunis itu memiliki jawaban yang berbeda.
"Kebetulan saya kerja di free Quran education kebanyakan kontennya dari pendakwah luar. Kami visualkan dalam animasi. Tidak perlu ijazah tinggi untuk membikin animasi. Pendapatan dari crowdfunding bukan dari AdSense. Kami tidak memasang AdSense," ungkap Ipotsky.
"Komik ke depan tak hanya seperti ini tapi gambar bergerak alias animasi. Konten-konten kartun dakwah itu bisa menghasilkan pendapatan. Insya Allah jadi amal jariyah," sahut Seno.
Sementara kartunis asal Purwokerto Nasirrun Purwokartun memilih istilah lain untuk penghidupan dari kartun.
"Kartun itu panggilan. Hidup hanya membutuhkan napas ya. Saya justru hidup dari apa saja. Saya nggak bisa kerja kantor. Waktu ditanya calon mertua profesinya apa, saya bingung mau bilang apa," ungkap penulis buku "Penangsang" yang juga juara satu lomba kartun Komisi Pemberantasan Korupsi itu.