Berita PKS

Ketua Garuda Keadilan: Generasi Muda Sedih Para Senior Mempertontonkan Pelemahan KPK

07 Jun 2021 | 10:36 WIB

Share: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

thumbnail

Jakarta – Presiden Garuda Keadilan Mustofa Farouq mengungkapkan kekecewaannya akan upaya-upaya pelemahan KPK oleh orang-orang yang lebih senior darinya.

“Bagaimana kita generasi muda ini dipertontonkan oleh generasi-generasi yang lebih senior dalam menangani korupsi dalam pelemahan KPK ini,” ujar Farouq dalam diskusi PKS Talks, Jumat (04/06/2021).

Sebagai representasi generasi milenial, dia pun menyayangkan anak muda mendapatkan contoh yang tidak baik tentang cara-cara memberantas korupsi di negeri ini.

“Yang saya sayangkan adalah anak muda menonton langsung dan mencontoh bagaimana bangsa ini mengelola isu korupsi,” sambungnya.

Farouq menilai pemerintah sudah tidak malu-malu lagi melakukan pelemahan terhadap KPK secara terang-benderang. 

“Ini udah jadi hal yang gak tabu lagi, pelemahan yang sudah terang-benderang dihadapan masyarakat umum,” ungkap Farouq.

Ia pun mempertanyakan masa depan KPK setelah serangkaian upaya pelemahan yang sudah terjadi.

“Dan keseriusan ini kita pertanyakan. Dengan adanya TWK ini, dengan adanya pelemahan ini, mau dibawah kemana KPK?” tanya Farouq.

Selain itu, ia juga tidak setuju dengan mekanisme Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang dilakukan dalam proses alih status KPK. Menurutnya tidak boleh ada tafsir tunggal terhadap Pancasila.

“Saya selalu tidak pernah sepakat dengan adanya Pancasila tafsir tunggal,” kata Farouq.

Ia menilai tafsir tunggal terhadap Pancasila akan menjadi alat untuk menyerang lawan politik yang memiliki sikap dan pandangan yang berbeda.

“Ketika Pancasila dijadikan tafsir tunggal akan selalu arahnya penyalahgunaan, menjustifikasi nilai-nilai politik seseorang yang berbeda dengan Pancasila,” ujar Farouq.

Farouq menganggap TWK tidak tepat digunakan sebagai indikator penilaian dalam proses alih status pegawai KPK karena tidak relevan.  

“Ketika hal-hal yang tidak relevan sama seseorang pribadi dijadikan sebuah nilai bersama ini akan jadi repot,” pungkasnya.