Berita PKS

Peringatan Hari Kartini, Netty Minta Pemerintah Perhatikan Pendidikan Bagi Perempuan

22 Apr 2021 | 11:23 WIB

Share: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

thumbnail

Jakarta - Ketua Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS Netty Prasetiyani dalam Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada Rabu (21/04/2021) ini, menekankan peran perempuan sebagai tiang penopang sebuah negara.

"Perempuan adalah tiangnya negara, karena itu rusaknya tiang akan berdampak besar terhadap bangunan negara tersebut. Perempuan-perempuan Indonesia harus menjadi tiang yang kuat, dengan begitu baru kemudian kita dapat menjadi negara yang kokoh dan maju, " ujar Netty yang saat ini duduk di Komisi IX DPR RI, pada Rabu (21/04/2021).

Netty juga menolak adanya anggapan bahwa perempuan tidak harus berpendidikan tinggi.

"Justru sebaliknya perempuan harus punya pendidikan dan cerdas karena perannya sebagai tiang negara. Negara harus hadir mendukung dengan kebijakan afirmatif untuk mengakselerasi pendidikan bagi kalangan perempuan. Saya berharap Peringatan Hari Kartini tidak hanya sekadar seremonial saja tapi juga diikuti dengan aksi yang konkret dari pemerintah," tambahnya.

"Di pelosok-pelosok negeri masih banyak  kita temukan perempuan yang terpaksa harus berhenti belajar. Apakah itu karena keterbatasan ekonomi atau alasan-alasan lain sebagaimana yang saya sampaikan. Hal ini harus menjadi perhatian dari pemerintah, apalagi saat ini kita sedang melawan Covid-19 yang banyak mengubah wajah pendidikan kita. Bagaimana masa depan pendidikan kita di tengah pandemi? Seperti apa perlindungan terhadap guru dan tenaga pendidik di tengah pandemi, mengingat akan dilakukannya PTM? Jangan sampai PTM dilakukan tapi perlindungan terhadap guru dan tenaga pendidik minim," katanya.

Saat Indonesia dilanda Covid-19, kata Netty, perempuan juga menjadi salah satu pihak yang terkena dampaknya. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan mengungkapkan sebanyak 623.407 pekerja perempuan terkena dampak Covid-19. Beberapa dari mereka dirumahkan, terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), dan pemulangan pemagangan akibat penyakit itu.

"Banyak perempuan terkena PHK dan dirumahkan karena Covid-19, padahal tidak jarang dari mereka yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Selain itu pandemi Covid-19  juga menyebabkan meningkatnya kekerasan di rumah tangga, pemerintah harus turun untuk menyelesaikannya," katanya.

Terakhir, Netty berpesan bagi perempuan di seluruh Indonesia harus tetap percaya diri dan tidak takut untuk bersaing.

"Perempuan-perempuan di tanah air saat ini sudah banyak yang mengisi pos-pos strategis di dalam negara. Keterwakilan suara perempuan di parlemen juga terus meningkat dan saya percaya hadirnya suara perempuan akan menjadi penyeimbang dalam setiap kebijakan yang diambil oleh negara," tandasnya.