Berita PKS

Pengalaman Gelap Para Paskibra PKS Saat Mati Lampu

17 Aug 2019 | 12:36 WIB

Share: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

thumbnail Pasukan pengibar bendera PKS, Foto: PKSFoto

Jakarta (17/8) - Insiden pemadaman listrik atau blackout yang terjadi beberapa hari lalu di Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah serta Yogyakarta memang menyisakan banyak cerita. Tak terkecuali bagi para pasukan pengibar bendera (paskibra) yang bertugas pada upacara bendera di halaman kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Jakarta Selatan, Sabtu (17/8/2019).

Langlang Wirabuana mengaku salah tingkah karena hilang komunikasi sama sekali. Padahal dirinya sudah ada janji dengan beberapa orang untuk ketemuan.

"Nggak bisa ngapa-ngapain, soalnya pas mati lampu itu perlu banget hubungin orang karena ada satu agenda. Bingung juga dan labil saat itu. Orang-orang tak ada kabar, jadi udah janjian tapi hari H nggak ada pemastian karena mati lampu. Lost begitu saja. Tapi saya tetap datang di tempat janjian meski nggak semuanya pada datang orang-orang yang udah janjian. Berkaitan dengan sekolah soalnya," kata Langlang.

Berbeda dengan Langlang, Subhanil Hanif Musaid mengaku ada sisi positif yang ia nikmati saat terjadi blackout. Anak muda asal Bandung yang pernah menjadi Paskibraka Istana itu menjadi lebih erat dengan anggota keluarga.

"Ada plus minusnya. Plusnya saya jadi lebih akrab dengan keluarga, lebih cengkerama banget dengan keluarga. Menggerombol ditemani lilin, cerita-cerita zaman dulu yang sering mati lampu. Negatifnya handphone benar-benar mati, nggak bisa ngapa-ngapain," kata Hanif, begitu ia intim disapa.

Sementara, Ricky Satria Pratama sangat dirugikan oleh pemadaman listrik. Sebab aktivitasnya di kantor sangat tidak produktif sama sekali.

"Susah benar waktu mati lampu apalagi kan saya kerja di perusahaan swasta, jadi aktivitas di kantor emang mati total. Nggak ada kegiatan sama sekali, kantor akhirnya tutup seharian. Sinyal juga mati, jadi menghubungi customer itu susah," kata cowok asal Negeri Serambi Mekah itu.

Pemadaman tersebut, membuat mereka memberikan kritikan dan masukan kepada pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN).

"Kalau saya lihat di media sosial, kondisi udara lebih baik lagi karena pemadaman, negatifnya aktivitas ekonomi menurun. Kalau bisa yang dimatikan ponselnya saja karena bisa mengeratkan anggota keluarga," ungkap Langlang.

Setali tiga uang dengan Langlang, Ricky menyebutkan bahwa PLN kalau bisa lebih baik lagi ke depannya. "Apalagi ini kan di ibukota, komunikasi bakal susah. Saya mohon kepada PLN agar lebih baik pelayanannya," kata Ricky.

Sementara Hanif memiliki pandangan yang agak berbeda. Ia mendesak ke PLN agar rutin mengadakan pemadaman dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

"Adakan pemadaman lagi tapi secara terjadwal tidak dadakan atau tiba-tiba. Karena pemadaman bisa mengeratkan tali silaturahim antar anggota keluarga he-he-he. Pemadamannya kalau bisa malam hari, jangan pagi agar tidak terganggu kegiatannya," ungkap cowok yang kuliah sambil kerja di kedai kopi ini.