Mulyanto: Visi PKS dalam Bernegara adalah Mewujudkan Indonesia Madani yang Adil, Sejahtera, dan Bermartabat

SURABAYA — Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur menyelenggarakan Diskusi Terbatas dan Penguatan Ideologi bagi Pimpinan PKS Jawa Timur, Dewan Pakar, dan Dewan Penasihat, Ahad (8/11/2026), bertempat di Aula Kantor DPTW PKS Jawa Timur, Jalan Penjaringan Asri 1 J/05. Mengangkat tema “Visi dan Tujuan PKS dalam Bernegara”, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkokoh pemahaman ideologis sekaligus menyelaraskan orientasi perjuangan seluruh unsur kepemimpinan partai.

Hadir sebagai narasumber, Mulyanto, Ketua MPP PKS, yang mengulas secara mendalam visi dan tujuan PKS dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana termaktub dalam Falsafah Dasar dan Paradigma Perjuangan Partai. Diskusi diikuti unsur DPTW, pengurus MPW, unsur pleno DPW, anggota legislatif DPRD PKS Jawa Timur, Dewan Pakar, dan Dewan Penasihat. Forum ini dirancang tidak sekadar menjadi ruang penyampaian gagasan, tetapi juga wahana refleksi dan penguatan kesadaran kolektif tentang arah perjuangan partai.

"Tujuan bernegara yang diperjuangkan PKS adalah terwujudnya Indonesia Madani yang adil, sejahtera, dan bermartabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila. Visi tersebut merupakan orientasi kebangsaan yang menempatkan kemaslahatan rakyat, keadilan sosial, kesejahteraan bersama, serta penghormatan terhadap martabat manusia sebagai bagian penting dari cita-cita perjuangan politik." ujar Mulyanto.

Dimensi adil mengandung komitmen untuk menegakkan keadilan sosial, kepastian hukum, dan kesetaraan hak bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi. Sementara itu, dimensi sejahtera menegaskan pentingnya menghadirkan kemakmuran yang merata, ekonomi yang berkeadilan, serta kualitas kehidupan masyarakat yang semakin baik. Adapun dimensi bermartabat mencerminkan tekad untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, merawat kebinekaan, memperkuat persatuan, serta menempatkan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki kehormatan dan kontribusi dalam pergaulan internasional.

Gagasan Indonesia Madani juga merefleksikan keteladanan masyarakat Madinah pada masa Rasulullah SAW, yakni masyarakat yang plural, beriman, beradab, menjunjung tinggi nilai keadilan, serta mampu membangun kehidupan bersama secara harmonis dan produktif. Dalam perspektif ini, masyarakat madani bukan hanya diukur dari kemajuan material, tetapi juga dari kualitas moral, integritas sosial, penghormatan terhadap keberagaman, dan komitmen terhadap kemaslahatan bersama.

Karena itu, visi bernegara PKS perlu dipahami sebagai landasan ideologis yang harus menjiwai seluruh aktivitas politik, kebijakan publik, kepemimpinan, dan pelayanan kepada masyarakat. Politik tidak semata-mata dimaknai sebagai kompetisi untuk memperoleh kekuasaan, melainkan sebagai instrumen pengabdian dan ikhtiar menghadirkan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara. Orientasi tersebut menuntut konsistensi antara nilai, gagasan, kebijakan, dan tindakan nyata para kader serta pemimpin partai.

Melalui forum penguatan ideologi ini, para pimpinan dan unsur strategis PKS Jawa Timur diharapkan memiliki pemahaman yang utuh, jernih, dan seragam mengenai visi serta tujuan PKS dalam bernegara. Kesamaan pemahaman tersebut menjadi modal penting untuk membangun keselarasan gerak organisasi, memperkuat kualitas kepemimpinan, serta memastikan setiap keputusan dan program partai senantiasa berpijak pada Falsafah Dasar dan Paradigma Perjuangan Partai.

"Mewujudkan Indonesia Madani bukan sekadar cita-cita normatif, melainkan agenda perjuangan jangka panjang yang membutuhkan keteladanan, konsistensi, dan kerja nyata. PKS berkomitmen mengambil bagian dalam menghadirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin adil, sejahtera, dan bermartabat. Sebuah cita-cita yang menegaskan bahwa perjuangan politik harus senantiasa berorientasi pada kemaslahatan rakyat, memperkokoh persatuan nasional, dan menjadikan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pijakan dalam membangun masa depan Indonesia." tutup Mulyanto dalam arahannya.