Indonesia Emas, Indonesia Madani
Oleh Baran Wirawan
Sekretaris MPP PKS
Indonesia Emas 2045 adalah sebuah angka tahun yang menandai satu abad kemerdekaan. Ia adalah sebuah janji sejarah: apakah Indonesia akan benar-benar tampil sebagai negara maju yang berdaulat, sejahtera, berkeadilan, dan disegani, atau sekadar menjadi negara dengan ekonomi besar tetapi masih menyisakan ketimpangan, kemiskinan, krisis integritas, dan kerentanan sosial. Visi resmi RPJPN 2025–2045 menempatkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan, dengan sasaran antara lain pendapatan per kapita setara negara maju, kemiskinan mendekati nol, peningkatan daya saing sumber daya manusia, serta penguatan posisi Indonesia di dunia.
Kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya bukan hanya diukur seberapa besar produk domestik bruto yang dihasilkan, melainkan berkait dengan bermartabat manusia yang hidup di dalamnya. Data terbaru BPS menunjukkan bahwa pada Maret 2026 persentase penduduk miskin memang telah turun menjadi 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026 juga turun menjadi 4,68 persen, sementara jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang. Ini adalah capaian yang patut diapresiasi, tetapi sekaligus mengingatkan kita bahwa perjalanan menuju masyarakat Sejahtera sebagaimana RPJPN 2025-2045 masih panjang. Sebab di balik statistik tersebut terdapat jutaan keluarga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup, memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan pendidikan, dan memastikan masa depan anak-anak mereka.
Di sinilah gagasan Indonesia Madani memperoleh relevansinya. Indonesia Madani tidak cukup dipahami sebagai masyarakat yang makmur secara material, tetapi sebagai masyarakat berperadaban tinggi yang ditopang nilai, norma, hukum, moral, keimanan, penghormatan terhadap pluralitas, keterbukaan, demokrasi, dan gotong royong. Platform pembangunan PKS menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek (tujuan) pembangunan—bukan sekadar alat produksi atau objek kebijakan. Pembangunan karena itu harus menyentuh dimensi material sekaligus sosial, mental dan spiritual. Inilah yang membedakan pembangunan yang sekadar menghasilkan kemajuan dengan pembangunan yang melahirkan peradaban yang bermartabat.
Kita patut bersyukur bahwa kualitas pembangunan manusia Indonesia terus bergerak positif. IPM Indonesia 2025 mencapai 75,90, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Umur harapan hidup, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, serta pengeluaran riil per kapita semuanya menunjukkan perbaikan. Tetapi Indonesia Emas menuntut lompatan yang jauh lebih besar: bukan hanya membuat manusia Indonesia hidup lebih lama, melainkan hidup lebih sehat; bukan sekadar bersekolah lebih lama, melainkan menjadi lebih cerdas, kreatif dan berkarakter; bukan hanya memperoleh pekerjaan, melainkan pekerjaan yang produktif, layak dan memberikan mobilitas sosial.
Karena itu, fondasi pertama Indonesia Emas haruslah manusia Indonesia yang unggul sekaligus berintegritas. Keluarga, pendidikan, kesehatan, kebudayaan dan keteladanan kepemimpinan tidak boleh diperlakukan sebagai agenda pinggiran. Platform PKS bahkan menempatkan pengarusutamaan keluarga, pendidikan karakter, kesehatan paripurna, kepemimpinan berintegritas, serta pemberdayaan kelompok rentan sebagai langkah utama pembangunan sosial-budaya. Gagasan ini menemukan relevansinya dalam agenda nasional karena Bappenas sendiri menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi utama transformasi menuju Indonesia Emas.
Fondasi kedua adalah ekonomi yang tumbuh sekaligus menghadirkan keadilan. Indonesia tidak boleh puas menjadi pasar besar atau eksportir komoditas mentah. Kekayaan alam harus diolah menjadi nilai tambah, teknologi harus menjadi pengungkit produktivitas, industri harus menciptakan pekerjaan berkualitas, sementara sektor pertanian, kelautan dan ekonomi berbasis sumber daya harus menjadi bagian dari transformasi struktural. Platform PKS menekankan ekonomi berkeadilan melalui persaingan sehat, pembatasan rente dan monopoli, peningkatan nilai tambah, inovasi, serta harmonisasi antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Arah ini sejalan dengan target RPJPN 2025–2045 yang menempatkan peningkatan pendapatan per kapita, penguatan manufaktur dan ekonomi maritim, pengurangan kemiskinan serta pembangunan berkelanjutan sebagai sasaran utama.
Fondasi ketiga, dan mungkin yang paling menentukan, adalah tata kelola negara yang adil, bersih dan berwibawa. Tidak mungkin membangun Indonesia Emas dengan institusi yang lemah, hukum yang tidak pasti, demokrasi yang kehilangan substansi, atau politik yang terlalu mahal dan transaksional. Indonesia Madani mensyaratkan negara yang kuat tetapi tidak sewenang-wenang; demokrasi yang hidup tetapi tidak kehilangan arah; hukum yang tegas tetapi tetap berkeadilan; serta relasi yang sehat antara negara, pasar dan masyarakat sipil. Platform PKS secara eksplisit menempatkan reformasi politik, pemerintahan, hukum dan keamanan sebagai bagian integral menuju Indonesia Madani.
Pada akhirnya, Indonesia Emas harus kita maknai sebagai proyek peradaban, bukan sekadar program pembangunan. Negara memang memiliki tanggung jawab besar, tetapi pembangunan membutuhkan partisipasi sektor privat dan sektor ketiga. Dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, organisasi masyarakat, generasi muda, keluarga, media, dan seluruh warga negara harus menjadi bagian dari orkestrasi besar tersebut. Platform pembangunan PKS menegaskan pentingnya pembangunan yang integral, lintas generasi, berkelanjutan dan berbasis partisipasi total. Kerangka RPJPN 2025–2045 pun menekankan perlunya transformasi lintas sektor dan kolaborasi seluruh pelaku pembangunan.
Maka, pertanyaan terbesar menuju 2045 bukan semata-mata seberapa kaya Indonesia?, tetapi “menjadi bangsa seperti apa kita kelak? Indonesia Emas akan kehilangan maknanya apabila gedung-gedung pencakar langit berdiri megah tetapi rakyat kecil merasa semakin jauh dari keadilan; ekonomi tumbuh tetapi kesempatan hanya berputar pada segelintir orang; teknologi semakin canggih tetapi karakter manusia semakin rapuh; demokrasi berlangsung tetapi kepercayaan publik semakin runtuh. Sebaliknya, Indonesia Emas akan menjadi kenyataan ketika kemajuan ekonomi berjalan bersama keadilan, kecerdasan bersama akhlak, kebebasan bersama tanggung jawab, dan kekuasaan bersama pengkhidmatan. Itulah esensi Indonesia Madani: Indonesia yang bukan hanya maju, tetapi manusiawinya tumbuh; bukan hanya kuat, tetapi adil; bukan hanya sejahtera, tetapi bermartabat. Dan jika 2045 adalah puncak perjalanan, maka pekerjaan sesungguhnya dimulai hari ini—dengan memastikan setiap kebijakan, setiap kepemimpinan dan setiap kontribusi anak bangsa menjadi bagian dari ikhtiar panjang membangun Indonesia sebagai rumah besar peradaban yang adil, sejahtera dan bermartabat.*