PKS: Pertanian, Peternakan, dan Perikanan adalah Bisnis Masa Depan Anak Muda

JAKARTA — Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan, Riyono Caping, mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke bisnis pertanian, peternakan, dan perikanan.

Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki peluang ekonomi besar sekaligus menjadi kunci bagi penguatan ketahanan pangan nasional.

Pesan tersebut disampaikan Riyono dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda. Ia menekankan bahwa sektor pangan tidak seharusnya dipandang sebatas pekerjaan tradisional, melainkan sebagai bidang usaha yang menjanjikan apabila dikelola dengan ilmu, inovasi, dan perencanaan yang matang.

“Pertanian adalah bisnis yang menjanjikan. Perikanan dan peternakan juga merupakan bisnis masa depan. Jadi, anak muda tidak usah ragu. Kuncinya yakin, pelajari ilmunya, dalami terlebih dahulu, dan jangan pernah putus asa. Kalau gagal, bangkit lagi,” ujar Riyono.

Menurut Riyono, ada tiga hal penting yang perlu dipersiapkan anak muda sebelum memulai usaha di sektor pangan.

Pertama, membangun keyakinan dan keberanian untuk mengambil peluang. Kedua, mempelajari secara mendalam bidang usaha yang akan ditekuni. Ketiga, memiliki daya tahan dan kemauan untuk terus bangkit ketika menghadapi kegagalan.

Ia mencontohkan pengalamannya dalam menekuni bisnis perikanan. Sebelum mulai berinvestasi, Riyono mengaku terlebih dahulu mempelajari bidang tersebut selama dua tahun.

Pengalaman ini, menurutnya, menunjukkan pentingnya pengetahuan dan persiapan sebelum seseorang mengambil keputusan bisnis.

“Ilmunya harus tahu dulu, dalami ilmunya terlebih dahulu. Saya sendiri belajar bisnis perikanan selama dua tahun, kemudian baru mulai berinvestasi. Jangan sampai ingin langsung memulai, tetapi tidak memahami bisnis yang dijalankan,” jelasnya.

Peluang Besar di Tengah Tantangan Regenerasi Petani

Ajakan Riyono relevan dengan tantangan regenerasi petani di Indonesia. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani milenial berusia 19–39 tahun mencapai 6.183.009 orang atau sekitar 21,93 persen dari total 28.192.693 petani di Indonesia.

Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah petani milenial terbanyak, yakni 971.102 orang, disusul Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Meski demikian, keterlibatan generasi muda masih menjadi pekerjaan rumah dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian nasional.
Di sisi lain, sektor pertanian masih memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia.

BPS mencatat sektor pertanian menyumbang 12,67 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada triwulan I 2026, menjadikannya sektor dengan kontribusi terbesar ketiga. Sektor ini juga mencatat pertumbuhan sebesar 4,97 persen secara tahunan, didukung antara lain oleh produksi tanaman pangan yang meningkat seiring panen raya.

Data tersebut memperlihatkan bahwa sektor pertanian tetap menjadi penopang ekonomi sekaligus menyediakan ruang bagi tumbuhnya usaha baru.

Peluangnya tidak hanya berada pada budidaya tanaman, tetapi juga pengolahan hasil panen, distribusi, penyediaan sarana produksi, dan pemanfaatan teknologi pertanian.

Program MBG Membuka Peluang Bisnis Peternakan

Riyono juga menilai sektor peternakan memiliki prospek besar, terutama seiring meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kebutuhan bahan pangan dalam program tersebut membuka peluang bagi peternak dan pelaku usaha untuk memasok telur, daging ayam, susu, serta berbagai produk pangan lainnya.

Namun, peluang ini perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi, produktivitas, kualitas, dan kepastian rantai pasok.
Pasokan susu menjadi salah satu tantangan penting.

Produksi susu dalam negeri selama ini baru memenuhi sebagian kebutuhan nasional, sehingga pengembangan peternakan sapi perah dan peningkatan produktivitas menjadi peluang bisnis yang perlu digarap lebih serius.

Selain itu, upaya memperkuat produksi telur dan daging ayam, termasuk di luar Pulau Jawa, dapat membuka kesempatan bagi generasi muda untuk membangun peternakan modern maupun usaha pendukungnya.

Bagi Riyono, peluang tersebut seharusnya menjadi momentum bagi anak muda untuk berani masuk ke sektor pangan, sekaligus berkontribusi mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

Bisnis Perikanan Juga Menjanjikan

Tidak hanya pertanian dan peternakan, sektor perikanan juga memiliki prospek yang luas. Pengembangan budidaya ikan dan udang, pengolahan hasil perikanan, hingga pemasaran produk berbasis teknologi menawarkan berbagai pilihan usaha bagi generasi muda.

Target produksi dan ekspor perikanan nasional pada 2026 turut menunjukkan besarnya potensi sektor ini. Pemerintah juga mendorong pengembangan budidaya ikan di desa-desa tematik untuk memperluas basis produksi dan meningkatkan nilai ekonomi sumber daya perikanan.

Menurut Riyono, peluang tersebut harus disambut dengan kesiapan sumber daya manusia yang memahami aspek teknis budidaya, manajemen usaha, akses pasar, serta pengelolaan risiko.

Ia mengingatkan bahwa bisnis di sektor pangan tidak selalu berjalan mulus. Karena itu, anak muda perlu memiliki mental tangguh dan menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran.

“Bisnis pertanian, peternakan, dan perikanan adalah bisnis masa depan anak muda. Jangan takut mencoba, tetapi siapkan ilmunya. Kalau mengalami kegagalan, evaluasi dan bangkit lagi,” tegasnya.

Melalui momentum Hari Sumpah Pemuda, Riyono berharap semakin banyak generasi muda yang mengambil peran sebagai petani, peternak, nelayan, pembudidaya, maupun wirausaha di sektor pangan.

Menurutnya, semangat kepemudaan perlu diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam membangun kemandirian ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan pangan Indonesia.