Berita PKS

Anis Byarwati Minta Bank Sentral Ikut Dukung Akses Perbankan untuk UMKM

28 Jan 2021 | 09:10 WIB

Share: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

thumbnail

Jakarta -- Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS,Anis Byarwati, memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas bantuan yang diberikan BI kepada UMKM melalui program Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), dalam acara rapat Komisi XI DPR RI bersama Dewan Gubernur Bank Indonesia, pada Senin (25/1/2021).

Ketua Bidang Ekonomi dan Keuangan DPP PKS ini juga memaparkan data dari Kementerian Koperasi yang menyebutkan bahwa rata-rata UMKM di Indonesia yang jumlahnya 64 juta unit UMKM, memiliki masalah dengan kapasitas SDM nya.

"Sebenarnya, banyak sekali program-program yang bisa diakses oleh UMKM. Tetapi karena keterbatasan kapasitas SDM mayoritas pelaku UMKM terutama yang ultra mikro, maka program-program tersebut sulit diakses oleh mereka," kata Anis.

Kemudian data juga menunjukkan bahwa ketika diproses secara digital, UMKM yang masuk proses digital hingga Juni 2020 tercatat hanya 9,6 juta unit.

Menurut data yang dipaparkan Anis, masalah lain yang dihadapi UMKM terkait dengan kesulitan akses bantuan restrukturisasi kredit.

"Banyak sekali UMKM yang unbankable. Mereka tidak bisa mengakses perbankan," ujarnya. Karenanya, Anis menyarankan agar program-program bantuan restrukturisasi, juga dikucurkan melalui BPR, BPRS, BMT atau Koperasi, sehingga pengusaha ultra mikro, terutama ibu-ibu rumah tangga bisa mengakses dengan lebih mudah. “Karena banyak sekali yang membutuhkan permodalan untuk UMKM ini,” kata Anis.

Doktor Ekonomi Islam ini mengungkapkan bahwa banyak literatur yang menunjukkan bahwa kunci sukses implementasi kebijakan moneter yang efektif, sangat tergantung dari expektasi pelaku ekonomi. Tentang apa yang pelaku ekonomi percayai akan terjadi di masa mendatang dan kepercayaan pelaku ekonomi terhadap Bank Sentral.

Dengan kata lain, kredibitas Bank Sentral menjadi sangat penting dalam menentukan apakah Bank Sentral dapat menerapkan satu kebijakan moneter secara efektif.

"Apalagi disaat kondisi ekonomi tidak pasti seperti sekarang ini. Kredibilitas menjadi semakin penting, karena berkaitan dengan kepercayaan pelaku pasar terhadap kemampuan Bank Sentral dalam mengendalikan kebijakan moneter," ungkapnya.

Oleh karena itu Anis menyarankan agar Bank Indonesia memiliki parameter untuk menilai persoalan kredibilitas ini, sehingga kebijakan moneter yang dilakukan betul-betul bisa meyakinkan masyarakat bahwa kondisi saat ini bisa diatasi.


Berita Terkait