Presiden UNIMIG Indonesia Apresiasi Keseriusan PKS untuk Pekerja Migran: Tidak Hanya 5 Tahunan

Jakarta - Presiden Union Migrant (UNIMIG) Indonesia atau Serikat Pekerja Migran Indonesia Fathurrahman menyampaikan apresiasinya kepada PKS yang serius terhadap tenaga kerja, baik buruh maupun pekerja migran.

Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Talkshow International Migrant Day 2023 yang digelar Bidang Ketenagakerjaan (Bidnaker) DPP PKS pada Ahad, (24/12/2023).

Keberadaan Bidnaker pada struktur PKS, sebut Fathur, menunjukkan perhatian PKS untuk memperjuangkan masalah pekerja yang dilakukan sepanjang waktu, bukan hanya sekali dalam 5 tahun ketika mendekati Pemilu.

"PKS ini luar biasa, ada bidang khusus yang mengurus ketenagakerjaan, karena selama ini banyak tenaga kerja baik buruh maupun pekerja migran ini hanya menjadi 'bahan kampanye' saja. Tidak diurusi secara langsung," ujarnya.

Pada talkshow ini, ia pun menyampaikan beberapa poin permasalahan terkait pekerja migran. Ia menyoroti tingginya pekerja migran tidak berdokumen dan maraknya kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Menurutnya, permasalahan multisektoral ini harus diselesaikan langsung oleh presiden.

"Ke depan kami berharap AMIN dan PKS bisa mengusulkan bahwa ini harus dipimpin langsung oleh presiden untuk bisa tegas dan bisa memutus rantai TPPO itu," paparnya.

Selanjutnya, ia menyoroti kesejahteraan daerah asal pejuang devisa yang telah menyumbangkan 159 triliun dan menjadi pemasukan kedua devisa terbesar setelah migas. Indramayu, sebagai daerah yang cukup banyak mengirim pekerja migran, ternyata memiliki persentase kemiskinan tertinggi di Jawa Barat.

Dengan kontribusi besar yang diberikan untuk pendapatan negara tersebut, seharusnya daerah asal pekerja migran lebih diperhatikan sebagai bentuk terima kasih kepada mereka. Pembangunannya harus menjadi prioritas.

Ketiga adalah perlindungan pekerja migran yang masih sangat kurang. Jumlah atnaker yang tersedia tidak sebanding dengan banyaknya jumlah pekerja migran. Lalu yang terakhir adalah memfasilitasi dengan baik pekerja migran yang akan kembali ke Indonesia.

"Negara harus hadir paling depan melindungi pekerja migran untuk membayar pengorbanan mereka dengan lebih baik lagi. Karena mereka bukan hanya pahlawan devisa, tapi pahlawan bagi keluarga dan daerahnya," tutup Fathur.