Integritas Kwik Kian Gie Tidak Lekang Oleh Zaman

Oleh Handi Risza

Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri

Bangsa Indonesia kembali kehilangan sosok yang sangat berpengaruh terhadap perjalanan perekonomian nasional dalam beberapa dekade terakhir. Kwik Kian Gie adalah seorang ekonom dan politikus senior, telah berpulang pada usia 90 tahun. Ia meninggal dunia pada tanggal 28 Juli 2025 pukul 22.00 WIB. Kepergian Kwik tentunya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, rekan hingga masyarakat yang mengikuti sepak terjang kwik sepanjang hidupnya, sosok yang teguh memegang integritas dan moralitas dalam setiap aktivitasnya. 

    Kwik Kian Gie lahir pada tahun 1935 di Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Setelah menamatkan pendidikan SMA, ia melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia selama setahun untuk tingkat persiapan. Kemudian, pada tahun 1956, beliau melanjutkan studi ke Nederlandsche Economiche Hogeschool Rotterdam yang kini bernama Erasmus Universiteit Rotterdam, hingga lulus pada tahun 1963. Pilihannya terhadap bidang ilmu ekonomi telah mengantarkannya menjadi ekonom terkemuka Indonesia.

Kampus Nederlandsche Economiche Hogeschool Rotterdam salah satu sekolah ekonomi terbaik di Belanda, menghasilkan banyak alumni terkenal, Jan Tinbergen peraih hadiah nobel pertama dari Belanda pada tahun 1969, Willem Drees Perdana Menteri Belanda tahun 1986-1988 dan Johan Witteveen Direktur Eksekutif IMF periode 1973-1978. Dari dalam negeri sendiri, melahirkan banyak ekonom terkemuka Indonesia dan pernah menduduk posisi tinggi dalam pemerintahan nasional. Termasuk di antaranya Wakil Presiden RI yang pertama Mohammad Hatta, Sumitro Djojohadikusumo, Radius Prawiro dan Arifin Siregar.

Kwik Kian Gie sendiri merupakan sosok ekonom yang sudah malang melintang dalam dunia politik dan ekonomi tanah air. Kuatnya latar belakang pendidikan ekonomi yang diperolehnya dari Belanda, menjadikan Kwik sebagai figur yang vocal dan bersuara nyaring dalam menjaga eksistensi perekonomian nasional. Bahkan tidak sungkan-sungkan melakukan kritik yang keras terhadap kebijakan ekonomi Pemerintah yang sedang berjalan. Tidak hanya itu, Kwik berani menentang intervensi Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap Indonesia yang dianggapnya merugikan kedaulatan ekonomi Indonesia.

Krisis moneter 1998 yang menghempaskan banyak negara ke dalam jurang krisis paling parah pasca Great Depression di Amerika serikat tahun 1929-1939, menjadi titik awal bagi Kwik Kian Gie untuk melawan kebijakan IMF yang dinilai memperburuk kondisi ekonomi Indonesia ketika itu. Kwik berpendapat bahwa kebijakan yang ditetapkan melalui Letter of Intent (LoI) IMF justru membuat Indonesia semakin terjerat utang luar negeri. Dengan sikap tegasnya, Kwik mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya kedaulatan ekonomi dan menolak ketergantungan pada lembaga asing. Peran tersebut secara konsisten dilakukan oleh Kwik hingga akhir hayatnya.

Setelah krisis moneter 1998, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi yang signifikan, mencapai 13,3 persen pada tahun yang sama dan nilai tukar terdepresiasi lebih dari 80 persen. Dalam situasi ini, Kwik menilai bahwa kebijakan IMF justru memperburuk keadaan. Dia menganggap bahwa ketergantungan pada utang luar negeri dan kebijakan neoliberal yang ditawarkan IMF tidak sesuai dengan kondisi domestik Indonesia. Kwik secara terbuka menolak dominasi IMF dalam kebijakan ekonomi nasional. Dia menyatakan bahwa lembaga-lembaga seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO merupakan alat negara maju untuk mengendalikan ekonomi negara berkembang.

Tidak sampai disitu, kritik Kwik terhadap solusi yang ditawarkan oleh IMF kepada Pemerintah Indonesia, dianggapnya tidak efektif dan tidak tepat diterapkan untuk menyembuhkan perekonomian Indonesia saat itu. Kwik menyebut IMF sebagai obat yang salah untuk penyakit yang berbeda, menegaskan bahwa pendekatan yang diambil IMF tidak dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi Indonesia. 

Kebijakan Pemerintah terkait skema penyelesaian utang obligor juga tidak luput dari perhatiannya. Kwik dikenal vokal dalam menentang skema penyelesaian utang obligor yang diajukan IMF. Dia menilai bahwa aset perusahaan yang disita Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) tidak sebanding dengan jumlah utang obligor, meskipun ia kalah dalam keputusan tersebut. Namun, ia tetap berdiri dengan kepala tegak.

Integritas yang Tidak Pernah Pudar

Integritas dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran sudah menjadi ciri khasnya Kwik, walaupun berasal dari etnis minoritas tidak menghalangi Kwik untuk bicara lantang. Jabatan tidak serta-merta mengubah keberanian Kwik. Ia tetap menjadi suara yang kritis, termasuk ketika diberi tanggung jawab dalam pemerintahan. Kwik pernah menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (1999–2000) di masa Presiden Abdurrahman Wahid dan kemudian sebagai Menko Ekuin (2001) di bawah Presiden Megawati Soekarnoputri. Namun jabatan tak pernah menghalangi integritas dan independensinya.

Warisan pemikiran Kwik bisa terlacak paling kuat adalah soal kedaulatan ekonomi. Kwik secara konsisten mengingatkan bangsa ini agar tidak tunduk pada kekuatan asing dan tidak menjadi subordinat IMF atau jebakan utang luar negeri. Ia menolak dominasi konglomerasi rente yang menyandera negara melalui lisensi dan koneksi kekuasaan. Ia bahkan berani menyebutnya sebagai konglomerat hitam yang menyandera ekonomi bangsa.

Kwik juga punya concern terhadap aset negara yang terdapat dalam BUMN, juga penting untuk dicatat. Kwik berkeyakinan, BUMN bukan sekadar entitas bisnis, tetapi merupakan separuh ekonomi bangsa yang bersifat strategis. BUMN adalah instrument negara untuk mensejahterakan masyarakat. Oleh sebab itu, perlu disadari bahwa kegagalan dalam mengelola BUMN bukan sekadar kegagalan manajerial, tapi kegagalan dalam menjaga kedaulatan ekonomi negara.

Gagasan ekonomi Kwik juga melintas ekonomi yang bersentuhan dengan sektor rill secara langsung, memiliki keberpihakan pada ekonomi kerakyatan, penguatan UMKM, dan pengelolaan fiskal yang transparan. Bahkan setelah keluar dari pemerintahan, Kwik tetap aktif menulis, mengajar, dan mendirikan lembaga pendidikan. 

Beberapa buku karya Kwik Kian Gie antara lain adalah "Ekonomi Indonesia dalam Krisis dan Transisi Politik" (1990), "Saya Bermimpi Jadi Konglomerat" (1993), "Analisa Ekonomi Politik Indonesia" (1994), "Pikiran yang Terkorupsi" (2006), "Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar" (2009), "Kapitalisme Masa Pasca Perang Dingin" (2003), dan "Kwik Kian Gie : bunga rampai pemikiran” (2022).

Bagi PKS, Kwik Kian Gie tidak hanya sebagai sahabat berdiskusi, tetapi juga merupakan inspirasi dalam hal keteladanan berintegritas, ketegasan intelektual, dan kecintaannya terhadap Republik yang tidak pernah padam. Kwik berani mengambil jalan sunyi, berdiri tegak di luar kekuasaan dengan suara lantang dan tajam, pada saat yang sama banyak cendekiawan dan ekonom lain memilih jalan yang lebih nyaman untuk dilalui. Selamat jalan Pak Kwik Kian Gie.