Ibu di Tengah Bencana; Pengorbanan yang Kerap Terlupakan
Oleh: Tuti Elfita
Wakil Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga DPP PKS
Pada suatu subuh yang pucat di Aceh, seorang ibu menyerahkan selimut terakhirnya kepada anaknya dan ia sendiri menggigil sepanjang malam. Di lokasi lain, ada ibu yang berdiri di ambang pintu rumahnya, menyaksikan air bah menelan dapur tempat ia memasak mimpi-mimpi keluarganya. Banjir tak pernah memilih, tetapi ibu hampir selalu menjadi yang pertama melepaskan sesuatu dari dirinya.
Kita sering memuji ketabahan mereka seolah itu anugerah, padahal ketangguhan itu sering tumbuh dari lelah yang dipaksa diam. Ibu, seperti pepatah Minang, limpapeh rumah nan gadang adalah tiang tengah rumah besar bangsa ini; namun terlalu sering ia berdiri sebagai penopang tanpa pernah benar-benar ditopang.
Di sinilah kenyataan menjadi lebih telanjang: bukan hanya tantangan internal yang menggerus para ibu. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat 4.150 ibu wafat sepanjang 2024, kematian yang terjadi bukan karena insiden, melainkan karena proses kehamilan, persalinan, dan masa nifas yang tidak terkelola dengan baik. Kekurangan Energi Kronis (KEK) masih menghantui banyak ibu hamil, memperpanjang proses persalinan, meningkatkan risiko perdarahan, kematian ibu dan bayi, hingga kelahiran prematur atau cacat.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik; setiap satu di antaranya adalah dunia yang runtuh, keluarga yang kehilangan pusat gravitasi. Karena sesungguhnya ibu yang sehat fisik, mental, dan spiritual adalah pilar utama ketahanan keluarga. Kesehatan ibu bukan urusan pribadi semata, melainkan fondasi kestabilan emosi anak, keharmonisan suami-istri, serta arah pendidikan dan masa depan keluarga. Ibu yang kuat melahirkan rumah yang terang; ibu yang retak membuat seluruh bangunan ikut goyah.
Pentingnya ruang edukasi dan penguatan peran ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anak di dalam keluarga. “Ibu Sehat dan Bahagia, Lahirkan Keluarga Tangguh” adalah slogan yang bagus, sebagai penanda arah bahwa ibu adalah investasi masa depan bangsa.
Pada titik ini, jelas bahwa ekosistem atau para pemangku kepentingan yang menopang ibu harus hadir seperti pemerintah, layanan kesehatan, pendidikan, komunitas, hingga lingkungan sosial terkecil, menciptakan ruang aman agar ibu dapat bahagia, sehat, dan tetap menjadi pilar keluarga tanpa harus mengorbankan dirinya berkali-kali. Ketangguhan keluarga tidak boleh lagi dibangun dari sisa tenaga seorang ibu yang dipaksa kuat sendirian.
Dan ketika kelak hujan kembali turun, sebagai rahmat atau ancaman, kita harus memastikan satu hal: tidak boleh ada lagi ibu yang menggigil demi menjaga orang lain tetap hangat.