HNW: Pebisnis Sukses ala Santri, Kontribusi untuk Indonesia

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid
Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid

Jakarta (30/10) -- Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid menyebutkan bahwa santri Indonesia dapat berkontribusi untuk bangsa dengan terjun ke bidang bisnis. Hal ini disampaikan oleh Hidayat dalam Forum Bisnis (FORBIS) Gontor yang menggelar Musyawarah Besar (Mubes) Perdana di Keraton Kasepuhan Cirebon, 26-28 Oktober 2019.

"Santri Indonesia tidak hanya pandai mengaji, tapi juga mengelola bisnis untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan membuka lapangan kerja," ungkap Hidayat.

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini juga mengingatkan FORBIS agar melipatgandakan kemampuan, dan berkiprah untuk bangsa dengan meneladani para sahabat Nabi Muhammad SAW yang sukses berbisnis.

"Sebagai rasa syukur, FORBIS perlu melipatgandakan kemampuan di berbagai bidang, khususnya ekonomi, dengan meneladani 10 sahabat mubasysyarin bil jannah (diberi kabar gembira sebagai penghuni surga). Sembilan di antara mereka adalah pebisnis besar yang mulia. Syukur itu dengan menghadirkan bisnis yang bernilai solusi dan berkah,” papar Hidayat yang tercatat sebagai Wakil Ketua Badan Wakaf Pesantren Gontor.

Untuk itu, santri jangan mengidap sikap Indonesia-phobia atau anti terhadap nilai-nilai keindonesiaan, lalu tidak berperan dalam perbaikan bangsa. Apalagi gampang membid’ahkan sesuatu dengan cara kurang bijak, "Sikap santri justru mampu memadukan tradisi dan modernitas yang sejalan dengan nilai universal agama,".

Hidayat menegaskan bahwa FORBIS Gontor bukan kelompok radikal atau teroris. Sebaliknya, santri berkontribusi positif menghadirkan solusi atas persoalan bangsa seperti pemberantasan kemiskinan dan penganggiran.

"FORBIS diharapkan mampu memberi rekomendasi atas regulasi dan program yang dapat disinergikan dengan pihak eksekutif dan legislatif. Harus mengakses sumberdaya dan bersinergi dengan Kementerian Perdagangan, Perindustrian, BKPM, dan Komisi terkait di DPR RI," sarannya.

Tak lupa, Hidayat juga mengingatkan pemerintah harusnya bijak dalam mengelola konflik, bahkan menghindari konflik dengan umat Islam.

“Menuduh umat Islam sebagai kelompok radikal adalah sikap ahistoris dan kontraproduktif. Kontribusi umat Islam bagi negara-bangsa Indonesia sangat nyata. Bukan fiktif atau ilusi. Bahkan, jika kita jujur mencermati sejarah, ditemui fakta sekitar 70 kerajaan di Indonesia yang secara ikhlas meleburkan diri ke dalam negara Indonesia yang pada saat kemerdekaan 1945 masa depannya belum pasti,” tegas Hidayat.

Karenanya, Hidayat mengundang Raja-Raja dan Pangeran yang ada di seluruh Nusantara untuk berkenan berkunjung ke Gedung MPR RI.

“Mengamati kondisi bangsa saat ini, dengan penuh hormat dan ta'zim, saya sebagai Pimpinan MPR mohon Pangeran Arif sebagai Ketua Forum Raja-Raja se-Nusantara berkenan hadir ke MPR untuk memberi masukan bagi regulasi dan program tata kelola bangsa dan negara. Indonesia modern membutuhkan kearifan historis. Selain itu, saya akan mendorong Pimpinan MPR untuk silaturahim menemui para Raja se-Nusantara,” tutur Hidayat.


Forbis di bawah naungan Pengurus Pusat (PP) Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor. Mubes perdana dihadiri Pimpinan Pondok Modern Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal, Ketua Umum PP IKPM, Ismail Budi Prasetyo, Ketua Forum Pesantren Alumni (FPA), KH. Zulkifli Muhadli, dan Gusti Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA H. Arief Natadiningrat SE. Hadir sebagai peserta Pengurus Pusat FORBIS dan Ketua-Ketua FORBIS Daerah beserta beberapa anggota.