Legislator PKS Apresiasi Tim Gabungan Evakuasi Korban KMP Virgo Transport 8
JAKARTA — Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKS Surahman Hidayat, menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 pada 13 September 2026 di perairan Kalimantan Selatan. Dari total 243 penumpang, sebanyak 114 orang telah berhasil dievakuasi dengan jumlah 108 selamat dan 6 meninggal dunia, sementara 129 penumpang lainnya masih dalam pencarian.
“Kami menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban, sekaligus mendorong agar proses evakuasi berjalan cepat dan korban yang masih dalam pencarian bisa segera ditemukan,” ujar Surahman, Senin (21/9/2026).
Surahman menekankan bahwa tragedi ini harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola keselamatan transportasi laut. Ia menilai pengawasan terhadap standar keselamatan kapal masih lemah dan perlu diperkuat agar tidak ada lagi kelalaian yang berujung pada hilangnya nyawa.
“Negara wajib hadir dengan langkah nyata, bukan sekadar respons darurat, tetapi juga pencegahan jangka panjang melalui regulasi yang lebih ketat dan pengawasan yang konsisten,” imbuh Surahman.
Selain itu, Surahman menyoroti pentingnya kesiapsiagaan bencana di sektor transportasi. Menurutnya, musibah ini menunjukkan bahwa koordinasi antar-instansi masih perlu ditingkatkan agar penanganan darurat lebih cepat dan efektif. Ia menegaskan bahwa keselamatan rakyat harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan.
Surahman juga memberikan apresiasi kepada tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, tenaga medis, relawan, dan masyarakat lokal yang bekerja tanpa mengenal lelah di lapangan. Dedikasi mereka menunjukkan solidaritas bangsa dalam menghadapi musibah, meski harus berhadapan dengan cuaca buruk dan kondisi laut yang menantang.
“Apresiasi setinggi-tingginya kami sampaikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam operasi SAR evakuasi korban tenggelamnya KMP Virgo Transport 8. Semoga kerja keras mereka menjadi amal kebaikan dan teladan bagi kita,” ujar Surahman.
Lebih lanjut, Surahman menambahkan bahwa negara tidak boleh berhenti pada tahap evakuasi saja, melainkan harus memastikan bantuan dan santunan benar-benar tersalurkan kepada keluarga korban. Bantuan dan santunan tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran negara di tengah rakyat yang sedang berduka, sehingga tidak boleh terhambat oleh birokrasi yang berbelit.
“Kami mendorong agar bantuan dan santunan bagi keluarga korban segera diberikan tanpa hambatan birokrasi, sehingga mereka merasakan kehadiran negara di saat paling sulit,” kata Surahman.
Surahman juga mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan para korban dan keluarga yang ditinggalkan agar diberi ketabahan. Ia berharap doa dan dukungan publik dapat menjadi penguat bagi keluarga yang sedang berduka.
“Semoga Allah memberikan kekuatan, kesabaran, dan perlindungan bagi keluarga korban, serta menjadikan para korban yang wafat sebagai syuhada di sisi-Nya,” pungkas Surahman.