4 DAYA KADER MUDA PKS

Oleh Muhammad Kholid

Sekretaris Jenderal DPP PKS

(Sebagian materi secara umum pernah disampaikan di Akademi Pemimpin Muda Indonesia (AMPI) Se-Jawa Barat, di DPRD Jawa Barat, 10/10/2026)

Izinkan saya ingin mengajak kita berbicara tentang sesuatu yang mendasar. Yakni kualitas diri kita sebagai kader, khususnya kader muda, generasi baru PKS.

Kader muda PKS tidak boleh hanya mengandalkan usia mudanya saja, tetapi harus memiliki daya dan keunggulan yang kuat, sehingga siap untuk memikul beban estafeta kepemimpinan di masa mendatang.

Karena itu, saya ingin menitipkan empat kekuatan yang harus kita bangun bersama sebagai generasi muda PKS untuk bekal menjadi pemimpin hari ini dan masa depan.

Saya menyebutnya empat daya kader muda PKS: Daya Ikat, Daya Rekat, Daya Pikat, dan Daya Sikat.

PERTAMA: DAYA IKAT

Daya Ikat adalah kesadaran untuk mengikatkan diri kepada prinsip dan nilai-nilai dasar perjuangan.

Saya ingin menekankan kata kesadaran. Sebab, komitmen yang kita bangun bukan sekadar kepatuhan karena sedang diawasi. Bukan pula kedisiplinan karena takut ditegur. Komitmen itu harus lahir dari pemahaman: saya mengetahui apa yang saya yakini, mengapa saya berada di sini, dan untuk apa saya berjuang.

Ada tiga komitmen yang harus menjadi pegangan kita.

1) Komitmen keislaman (al-iltizam bil-Islam)

Kita mengikatkan diri kepada nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah. Kita ingin menghadirkan Islam yang _rahmatan lil 'alamin_: Islam yang menjadi rahmat, yang membawa kebaikan, dan yang manfaatnya dirasakan oleh sesama.

Karena itu, komitmen keislaman jangan berhenti pada identitas. Ia harus hadir dalam kejujuran kita, dalam amanah yang kita tunaikan, dalam tutur kata kita, dan dalam cara kita memperlakukan manusia.

Kita ingin berpegang pada Islam yang _wasathiyah_, yang menjunjung keseimbangan dan tidak melampaui batas. Kita memahami Islam secara _syamil_ dan _mutakamil_: menyeluruh dan saling melengkapi dengan segala dimensinya.

Nilai yang kita perjuangkan harus terlebih dahulu terlihat dalam perilaku kita.

2) Komitmen Kebangsaan (al-iltizam bil-wathan)

Kita mengikatkan diri kepada konsensus kehidupan berbangsa dan bernegara: Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Komitmen ini harus hadir dalam kesediaan kita menjaga persatuan, menghormati keragaman, serta menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri dan kelompok.

Kita ingin menjadi bagian dari kehidupan kebangsaan yang saling menghormati. Teguh dalam keyakinan, tetapi tidak merendahkan keyakinan orang lain. Memiliki identitas, tetapi tidak menutup pintu persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.

Keislaman harus kita hadirkan sebagai sumber akhlak dalam pengabdian kepada Indonesia.

Dan kecintaan kepada Indonesia harus kita wujudkan melalui kerja yang jujur, adil, dan bertanggung jawab.

3) Komitmen Kepartaian (al-iltizam bil-hizb)

Kita perlu memahami platform, ideologi, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, peraturan partai, serta arahan dan perintah pimpinan.

Jangan hanya mengetahui nama partai, tetapi tidak memahami arah perjuangannya. Jangan hanya mengenakan identitasnya, tetapi tidak bersedia menjaga nilai dan kedisiplinannya.

Namun, komitmen kepada partai bukan berarti berhenti berpikir.

Ketaatan dalam kebaikan harus berjalan bersama tanggung jawab untuk memberikan masukan. Kritik hendaknya disampaikan dengan adab, melalui mekanisme yang tepat, dan dengan niat memperbaiki.

Mencintai organisasi bukan berarti menganggap organisasi tidak mungkin salah. Mencintai organisasi berarti ikut menjaga agar langkahnya tetap benar.

Itulah Daya Ikat: teguh dalam keislaman, kokoh dalam kebangsaan, dan bertanggung jawab dalam kepartaian.

KEDUA: DAYA REKAT

Kalau Daya Ikat berbicara tentang hubungan kita dengan nilai, maka Daya Rekat berbicara tentang hubungan kita dengan sesama kader.

Kita tidak ingin menjadi sekumpulan orang yang berada dalam satu organisasi, tetapi hatinya saling berjauhan. Kita ingin membangun kebersamaan yang sungguh-sungguh: saling mengenal, saling memahami, dan saling menguatkan.

Ada tiga unsur yang harus kita rawat. Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Majelis Syuro PKS Mohamad Sohibul Iman, Ph.D, pentingnya merawat modal sosial kita.

1) Rasa memiliki yang Tinggi (Sense of Belonging)

Rasa memiliki berarti kita tidak menempatkan diri hanya sebagai penonton. Ketika ada kekurangan, kita tidak sekadar menunjuk. Kita ikut mencari jalan perbaikan. Ketika ada pekerjaan, kita tidak hanya bertanya siapa yang akan mengerjakannya. Kita juga bertanya apa yang dapat kita bantu.

Tetapi ingat, rasa memiliki partai tidak sama dengan merasa paling memiliki partai.

Jangan sampai kecintaan berubah menjadi sikap seolah-olah hanya kelompok kita yang berhak menentukan segalanya.

Organisasi ini harus kita rawat bersama, bukan kita persempit menjadi milik lingkaran tertentu.

2) Rasa Kebersamaan yang Tinggi (Sense of Togetherness)

Kebersamaan berarti bersedia berbagi beban, bukan hanya berbagi kebanggaan. Bersedia mendampingi ketika ada kesulitan, bukan hanya hadir ketika ada keberhasilan.

Ketika saudara kita mendapatkan amanah, kita dukung agar ia dapat menunaikannya. Ketika saudara kita mengalami kesulitan, kita bantu agar ia mampu bangkit. Ketika ada kekurangan, kita lengkapi, bukan kita jadikan bahan untuk menjatuhkan.

Kita harus belajar untuk tidak merasa kecil ketika saudara kita tumbuh besar.

3) Saling Percaya dan Saling Menghormati (Mutual Trust and Respect)

Kepercayaan harus kita rawat dengan kejujuran. Penghormatan harus kita tunjukkan melalui cara mendengar, berbicara, dan menyikapi perbedaan.

Jangan terlalu cepat berprasangka. Jangan mudah menyimpulkan niat buruk dari pendapat yang berbeda. Biasakan bertanya sebelum menuduh, melakukan tabayun sebelum menyebarkan informasi, dan mendengarkan sebelum memberikan penilaian.

Dalam kehidupan organisasi, perbedaan pandangan, kecenderungan berkelompok, bahkan konflik dapat muncul. Yang harus kita cegah adalah ketika perbedaan itu berubah menjadi permusuhan dan ketika kelompok-kelompok itu menempatkan kepentingannya di atas kepentingan bersama.

Ukuran kedewasaan kita bukanlah apakah kita pernah berbeda pendapat. Ukurannya adalah bagaimana kita mengelola perbedaan tersebut.

Itulah Daya Rekat: merasa memiliki tanpa harus memonopoli, membangun kebersamaan tanpa menghapus perbedaan, serta menjaga kepercayaan tanpa menutup ruang koreksi.

KETIGA: DAYA PIKAT

Jika Daya Ikat dan Daya Rekat menguatkan kita dari dalam, maka Daya Pikat mengarahkan perhatian kita kepada masyarakat luas.

Pertanyaannya sederhana: apa yang membuat kehadiran kita diterima? Apa yang membuat orang lain merasa nyaman bekerja bersama kita? Apa yang membuat masyarakat memiliki alasan untuk percaya?

Kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa diri kita baik. Kita harus menunjukkan kebaikan itu melalui perilaku dan tanggung jawab yang nyata.

Ada tiga kualitas yang harus kita bangun: integritas, kapasitas, dan akseptabilitas.

1) Integritas

Integritas berarti menjadi pribadi yang jujur, amanah, bersih, dan dapat dipercaya.

Apa yang kita katakan harus sejalan dengan apa yang kita kerjakan. Amanah yang dititipkan harus kita jaga. Janji yang kita sampaikan harus kita upayakan untuk ditunaikan.

Jujurlah dalam perkara besar maupun kecil. Jujur dalam menyampaikan informasi, dalam membuat laporan, dalam menggunakan uang amanah, dan dalam mengakui kekurangan diri.

Jangan membiasakan pembenaran atas kesalahan hanya karena dianggap kecil. Jangan pula menjadikan kepentingan organisasi sebagai alasan untuk mengabaikan kejujuran.

Integritas harus kita jaga, termasuk ketika tidak ada orang yang melihat dan tidak ada pujian yang akan kita terima.

2) Kapasitas

Niat baik harus disertai kemampuan yang baik. Amanah harus dijalankan secara profesional dan bertanggung jawab.

Karena itu, jangan berhenti belajar. Jangan merasa cukup hanya karena sudah lama berada dalam organisasi. Jangan merasa mampu hanya karena pernah mendapatkan jabatan.

Ketika menerima tugas, pahami apa yang harus dicapai. Persiapkan diri. Kerjakan dengan tertib. Selesaikan dengan baik. Dan bersedialah dievaluasi.

Kalau belum tahu, belajarlah. Kalau belum mampu, mintalah bimbingan. Kalau melakukan kesalahan, perbaikilah.

Kita ingin menjadi pribadi yang dapat diandalkan. Bukan hanya bersemangat ketika menerima amanah, tetapi juga bersungguh-sungguh ketika menuntaskannya.

3) Akseptabilitas

Akseptabilitas berarti menjadi sosok yang dapat diterima masyarakat. Kehadiran kita membawa solusi, menjaga hubungan baik, dan menghadirkan harmoni.

Jangan menjadi pribadi yang setiap kedatangannya membuat orang lain merasa terancam atau direndahkan. Jangan membiasakan diri memenangkan percakapan dengan mempermalukan lawan bicara.

Belajarlah mendengar. Hormati pengalaman orang lain.

Sampaikan pendapat dengan santun. Hadirkan kepedulian yang tulus.

Namun, diterima masyarakat bukan berarti harus menyenangkan semua orang dengan mengorbankan prinsip. Kita tetap harus teguh pada kebenaran. Yang perlu kita jaga adalah cara menyampaikannya: tegas pada persoalan, tetapi tetap menghormati manusia.

Integritas membuat kita layak dipercaya. Kapasitas membuat kita dapat diandalkan. Akseptabilitas membuat kehadiran kita diterima.

Itulah Daya Pikat yang harus kita bangun: bukan sekadar penampilan yang menarik, tetapi kualitas pribadi yang menghadirkan keteladanan.

KEEMPAT: DAYA SIKAT

Kita tidak cukup hanya memiliki Daya Pikat. Kita juga harus memiliki Daya Sikat.

Apa yang saya maksud dengan Daya Sikat?

Bukan kemampuan memusuhi orang. Bukan kebiasaan melampiaskan kemarahan. Bukan pula tindakan intimidasi atau main hakim sendiri.

Daya Sikat adalah keberanian dan kesungguhan untuk menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar: mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, mengoreksi kesewenang-wenangan, dan meluruskan penyimpangan. Yang kita lawan adalah kezaliman dan perbuatan buruknya. Cara yang kita tempuh harus tetap benar, beradab, damai, dan bertanggung jawab.

Untuk itu, ada tiga karakter yang perlu kita kuatkan: syaja'ah, mujahadah, dan ghirah.

1) Syaja'ah: Keberanian karena Benar

Kita harus berani menyampaikan kebenaran, meskipun tidak selalu populer. Berani mengoreksi kesewenang-wenangan. Berani meluruskan yang bengkok.

Tetapi keberanian bukan sekadar lantang berbicara. Keberanian juga berarti bersedia mempertanggungjawabkan perkataan dan tindakan kita.

Berani mengoreksi orang lain harus disertai keberanian menerima koreksi. Berani menunjukkan kesalahan harus disertai keberanian mengakui kesalahan sendiri.

Jangan hanya tegas ketika kesalahan dilakukan oleh orang yang berbeda dengan kita, tetapi diam ketika kesalahan dilakukan oleh orang yang dekat dengan kita.

Keberanian yang kita bangun harus berpihak kepada kebenaran, bukan semata-mata kepada kedekatan.

Kita ingin memiliki keberanian tanpa kesewenang-wenangan, ketegasan tanpa kekasaran, dan pendirian tanpa kesombongan.

2) Mujahadah: Kesungguhan dalam Perjuangan

Mujahadah berarti tidak menjalankan amanah dengan setengah hati. Tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Tidak berhenti hanya karena hasil belum sesuai harapan.

Jangan hanya bersemangat ketika memulai. Jagalah kesungguhan sampai pekerjaan selesai.

Jangan menunggu suasana hati selalu baik untuk menunaikan tanggung jawab. Jangan membiarkan kemalasan menjadi kebiasaan. Dan jangan menjadikan setiap teguran sebagai alasan untuk menarik diri dari kebersamaan.

Ketika dikoreksi, ambil pelajarannya. Ketika gagal, evaluasi caranya. Ketika menghadapi hambatan, cari jalan keluarnya.

Bersungguh-sungguh tentu bukan berarti mengabaikan kesehatan, keluarga, atau kebutuhan beristirahat. Kita perlu menjaga diri agar dapat menunaikan amanah secara berkelanjutan. Yang harus kita lawan adalah sikap mudah menyerah dan kebiasaan menghindari tanggung jawab.

Mari kita pegang semangat man jadda wajada: siapa yang bersungguh-sungguh akan menemukan hasil dari kesungguhannya.

Jangan ingin menjadi pribadi yang dapat diandalkan, tetapi enggan melewati proses belajar. Jika ingin menunaikan amanah besar, maka kita tidak boleh mengabaikan kedisiplinan dalam tugas kecil.

3) Ghirah: Semangat Pembelaan yang Lahir dari Kecintaan

Ghirah adalah nyala semangat untuk menjaga sesuatu yang kita muliakan: agama, kehormatan Nabi dan Rasul, bangsa, keluarga, serta organisasi tempat kita mengabdi.

Ghirah harus menjadi api yang menerangi langkah, bukan api yang membakar persaudaraan.

Dengan syaja'ah, kita memiliki keberanian. Dengan mujahadah, kita memiliki daya tahan. Dengan ghirah, kita menjaga semangat pengabdian tetap menyala.

Itulah Daya Sikat: tegas menegakkan kebenaran, bersungguh-sungguh menjalankan tanggung jawab, dan bersemangat membela nilai tanpa kehilangan adab.

Penutup

Keempat daya ini harus saling menjaga dan saling melengkapi. Ikatkan diri kita kepada nilai-nilai perjuangan. Rekatkan persaudaraan dengan saling percaya dan menghormati. Pikat hati masyarakat melalui integritas, kapasitas, dan akseptabilitas. Sikat kemungkaran dengan keberanian, kesungguhan, dan cara yang beradab.

Itulah kualitas kader yang ingin kita bangun bersama.

Semoga Allah Swt. menguatkan keimanan kita, meluruskan niat kita, mempersatukan hati kita, serta membimbing setiap langkah pengabdian kita.

Semoga kita diberikan keteguhan tanpa kekakuan, kelembutan tanpa kelemahan, keberanian tanpa kesombongan, dan kesungguhan tanpa kehilangan keikhlasan. tanpa kehilangan keikhlasan.