Tutup TFT Forum Ayah, AMY: Menjadi Ayah Bukan Sekadar Status, tetapi Pilihan, Perjuangan, dan Amanah
Jakarta — Presiden PKS Almuzzammil Yusuf (AMY) menekankan pentingnya peran ayah dalam membangun ketahanan keluarga di tengah berbagai tantangan kehidupan, khususnya disrupsi digital yang semakin memengaruhi pola interaksi dan pengasuhan anak.
Hal itu disampaikan AMY saat menutup Training for Trainer (TFT) Forum Ayah yang diselenggarakan Bidang Perempuan dan Keluarga (BIPEKA) DPP PKS, Jumat (2/10/2026).
AMY mengapresiasi BIPEKA DPP PKS atas penyelenggaraan TFT Forum Ayah yang dinilainya menjadi bagian dari upaya mengokohkan peran keluarga sebagai fondasi kehidupan. Menurutnya, kegiatan tersebut juga penting untuk mencetak para trainer yang dapat menjadi penggerak penguatan keayahan di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, keluarga, khususnya rumah tangga, merupakan salah satu fondasi penting dalam perjuangan. Karena itu, kesibukan dalam aktivitas dakwah dan kemasyarakatan tidak boleh membuat perhatian terhadap keluarga terabaikan.
“Rumah tangga adalah rumah perjuangan pertama. Jangan sampai kesibukan dakwah membuat kita mengabaikan keluarga,” ujar AMY.
Menurut AMY, seorang ayah memiliki peran strategis di dalam keluarga, bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pemimpin, pendidik, pelindung, sekaligus teladan bagi anak-anaknya.
“Menjadi ayah itu status biologis. Tetapi menjadi ayah yang hadir adalah pilihan, perjuangan, dan amanah,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa keberadaan ayah secara fisik di rumah belum tentu berarti kehadiran yang utuh dalam kehidupan istri dan anak. Seorang ayah dapat berada di rumah, tetapi pikirannya teralihkan oleh pekerjaan, gawai, maupun berbagai aktivitas lainnya.
“Jangan sampai kita menjadi ayah yang hanya hadir secara fisik, tetapi pikiran kita ada di tempat lain. Duduk satu meja, tetapi masing-masing sibuk dengan layar,” katanya.
Waspadai Absent Parenting
AMY menyebut persoalan pengasuhan saat ini tidak hanya berkaitan dengan fatherless, yakni ketiadaan figur ayah dalam keluarga. Menurutnya, ada persoalan lain yang juga perlu mendapatkan perhatian, yaitu absent parenting, ketika orang tua secara fisik berada di rumah tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional bagi anak.
“Bisa memenuhi kebutuhan material anak, tetapi belum tentu mengetahui kebutuhan jiwanya,” ujar AMY.
Karena itu, ia mengajak para ayah membangun kehangatan dan interaksi yang bermakna bersama keluarga. Menurutnya, rumah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman bagi anak, terutama ketika mereka menghadapi berbagai persoalan di luar rumah.
AMY juga menyoroti tantangan dunia digital yang semakin besar. Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Komunikasi dan Digital, 48 persen anak yang mengakses internet dilaporkan pernah mengalami perundungan daring atau cyberbullying. Pemerintah sendiri telah menerbitkan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Anak di Ruang Digital sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak.
“Anak membutuhkan rumah sebagai tempat pulang. Seorang ayah seharusnya menjadi salah satu orang pertama yang dicari anak ketika dunia di luar sedang tidak baik-baik saja,” tutur AMY.
Dalam konteks perlindungan keluarga, AMY juga mengingatkan pentingnya orang tua memberikan pendampingan terhadap berbagai jenis konten dan pengaruh yang ditemui anak di ruang digital.
Ia mengajak keluarga membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak memiliki tempat untuk bertanya, bercerita, dan mendapatkan arahan ketika menghadapi persoalan.
Belajar dari Ibrahim dan Ismail
AMY kemudian mengajak para ayah mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., terutama dalam membangun komunikasi antara orang tua dan anak.
Ia menyoroti dialog Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail ketika menyampaikan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya sebagaimana terdapat dalam QS. Ash-Shaffat ayat 102.
Dalam ayat tersebut, Nabi Ibrahim berkata kepada Ismail, “Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Menurut AMY, ayat tersebut memberikan pelajaran penting mengenai pola pengasuhan yang mengedepankan dialog.
“Ibrahim a.s. adalah seorang Nabi. Yang beliau sampaikan adalah perintah Allah. Tetapi kepada anaknya, tetap dibuka ruang percakapan,” jelasnya.
Menurut AMY, pola komunikasi tersebut relevan untuk diterapkan para orang tua saat menghadapi anak-anak di era sekarang. Anak membutuhkan ruang untuk menyampaikan pikiran, perasaan, pertanyaan, maupun kegelisahannya.
“Pengasuhan bukan hanya tentang memberikan perintah, tetapi juga menghadirkan ruang dialog agar anak merasa didengar dan dipahami,” katanya.
AMY menilai tantangan pengasuhan di era digital membutuhkan keterlibatan ayah dan ibu secara bersama-sama. Kehadiran orang tua tidak cukup hanya dengan menyediakan kebutuhan fisik dan material, tetapi juga harus disertai perhatian terhadap perkembangan emosional dan spiritual anak.
Ia berharap para peserta TFT Forum Ayah yang telah mendapatkan pembekalan dapat meneruskan semangat tersebut di lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Selamat atas pelaksanaan TFT Forum Ayah. Jadilah para ayah yang menjadi pemimpin di keluarga dan penggerak di masyarakat,” ujar AMY.
AMY kemudian secara resmi menutup kegiatan TFT Forum Ayah dengan mengucapkan hamdalah.
“Dengan mengucap alhamdulillahirabbil ‘alamin, secara resmi acara ini saya tutup. Selamat berjuang, para ayah,” pungkasnya.