Sukamta Minta Antrean Pengurusan Paspor di KBRI tidak Bertumpuk
Jakarta -- Anggota Komisi I DPR RI Sukamta menyatakan turut berduka cita kepada keluarga almarhum Tamam bin Arsyad, WNI yang meninggal saat antre paspor di KBRI Malaysia.
Sukamta menyebut, posisi almarhum yang sedang mengantre mengurus paspor tentu menjadi perhatian banyak pihak. Meski ada penjelasan KBRI bahwa almarhum punya riwayat penyakit jantung dan saat kejadian tidak dalam kondisi berdesak-desakan, hal ini tetap perlu menjadi bahan evaluasi bagi KBRI untuk meningkatkan kualitas layanan.
"Bagaimanapun 1 nyawa WNI tidak ternilai harganya, tugas negara untuk melindunginya," jelas Sukamta.
Wakil Ketua Fraksi PKS Bidang Polhukam ini lebih lanjut menyampaikan masih adanya antrean dalam pengurusan paspor menunjukkan sistem daring yang sudah dibuat belum berjalan dengan optimal. Sementara di lokasi antrean paspor nampaknya belum disediakan layanan medis yang memadai untuk mengantisipasi kejadian seperti yang menimpa almarhum.
Sukamta lebih lanjut memandang perlu adanya langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kualitas layanan di KBRI. Pertama, di negara asing dengan populasi WNI yang besar sangat perlu untuk menambah jumlah loket layanan untuk memastikan tidak ada antrean panjang.
Kedua, KBRI perlu memperkuat sosialisasi dan edukasi layanan daring yang telah dibuat. Ketiga, perlu adanya protap untuk mengantisipasi kejadian khusus seperti kejadian almarhum Tamam bin Arsyad sehingga lebih cepat tertangani.
"Upaya peningkatan kualitas layanan KBRI tentu akan berkonsekuensi kepada penambahan SDM dan juga biaya, hal ini perlu menjadi perhatian Kemenlu. KBRI merupakan etalase Indonesia di luar negeri, tentu perlu terus ditingkatkan kualitasnya layanannya," jelas Anggota DPR RI asal Yogyakarta ini.