Nasir Jamil Dorong Pemerintah Aceh Lengkapi Sarana Prasarana Pencegahan Narkoba
ACEH (27/4) – Anggota Komisi III DPR RI Muhammad Nasir Jamil meminta Pemerintah Aceh untuk memerhatikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh Lembaga Permasyarakatan (Lapas) di seluruh Aceh.
Hal tersebut diungkapkan Nasir Jamil , pada diskusi hukum dengan tema “Lapas, Narkoba, dan Hukuman Mati,” di Banda Aceh, Senin (27/4).
Nasir mengatakan pemerintah Aceh harus mengalokasikan anggaran untuk pengadaan alat-alat yang dibutuhkan untuk mencegah masuknya narkoba, tidak hanya ke lapas tapi juga ke berbagai tempat di Aceh, baik itu untuk ditempatkan di bandara-bandara maupun pelabuhan.
“Kalau ada alat-alat yang bisa mencegah masuknya narkoba ke Aceh, itu harus segera direalisasikan oleh Pemerintah Aceh, meskipun ini mahal harganya tapi ini untuk mencegah pembunuhan massal, karena narkoba ini mirip senjata pembunuh masal,” ujar Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) asal Aceh ini.
Sementara terkait banyaknya persoalan yang terjadi di Lapas hingga terjadinya peredaran narkoba bahkan menjadi syurga bagi bandar narkoba, Nasir memandang ada beberapa penyebabnya seperti petugas yang jarang dirotasi sehingga menjadi sangat berkuasa, kemudian minimnya kesejehtraan petugas lapas dan ada juga lapas yang dipimpin oleh orang yang tidak berpengalaman.
“Salah satu persoalannya adalah petugas yang jarang dirotasi, karena kalau sudah lama bisa jadi penguasa walaupun posisinya di bawah, jadi ideal nya dua tahun sekali dirotasi apakah di dalam Aceh maupun luar Aceh,” lanjutnya lagi.
Sementara itu Kepala Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM Provinsi Aceh Fatlurachman mengakui 56 persen dari penghuni lapas di Provinsi Aceh merupakan terpidana narkoba.
Menyangkut peredaran narkoba yang terjadi di lapas, menurutnya bisa terjadi karena beberapa sebab seperti dibawa oleh tamu-tamu yang berkunjung. Modusnya dengan cara dimasukkan ke dalam rokok, sampo, bungkus nasi, martabak dan sebagainya. Selain itu diakuinya narkoba masuk ke lapas juga melalui oknum lapas yang memiliki integritas yang sangat lemah sehingga mudah dipengaruhi.
Sumber: Humas PKS Aceh