HNW Komentari Sistem Urus Paspor yang Tidak Ramah
Jakarta (04/11) -- Proses pengurusan Paspor di KBRI Kuala Lumpur pada 31 Oktober 2019, telah menelan korban meninggal dunia. Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menyampaikan rasa bela sungkawanya dan prihatin terhadap sistem pengurusan Paspor yang tidak ramah.
"Kasus WNI meninggal saat antri Paspor harus dijadikan momentum untuk evaluasi dan perbaikan. Walaupun penyebabnya karena serangan jantung, namun kenyamanan pelayanan KBRI Kuala Lumpur harus bisa ditingkatkan," ujar Hidayat, Senin (04/11/2019).
Anggota DPR RI Dapil DKI 2 jakarta ini juga menerangkan fenomena pekerja migran yang antri panjang bahkan harus menginap karena mereka datang dari daerah yang jauh juga terjadi di negara lain seperti di Arab Saudi atau Taiwan. Pada era digital, lanjut HNW, harusnya semua bisa dilayani lebih mudah dan cepat, permasalahan urusan dokumen kewarganegaraan di kantor perwakilan RI di luar negeri harus bisa menjawab tantangan.
"Sehebat apapun sistem yang dibuat namun kurang tersosialisasi dengan baik sama saja hasilnya, harus ada upaya yang lebih masif mengenalkan sistem online. Setiap WNI perlu diedukasi dan dilayani karena tugas negara menlindungi dan mencerdaskan rakyat," jelas Hidayat.
Untuk Malaysia sendiri, HNW menyebutkan dengan jumlah WNI lebih dari 1 juta orang memerlukan pelayanan prima, Kementerian luar negeri sebaiknya memperluas akses pelayanan dengan membuka kantor konsul di beberapa negara bagian dimana banyak pekerja migran yang memperlukan perlindungan.
"KBRI juga sebaiknya memberikan jalur khusus untuk mereka yang sudah termasuk warga senior (60 tahun ke atas) termasuk perempuan dan ibu hamil, KBRI juga sebaiknya memberikan jalur khusus untuk mereka yang sudah termasuk warga senior (60 tahun ke atas) termasuk perempuan dan ibu hamil," katanya.
Khusus untuk KBRI Kuala Lumpur, keterbatasan ruangan dan kenyamanan ruangan perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Sejak lama, kasus-kasus pelayanana bermasalah terus terjadi, inovasi yang dilakukan harus diimbangi dengan edukasi dan sosialisasi yang terus menerus agar inovasi dapat membuahkan hasil maksimal, masih kata HNW.
"Permasalahan WNI menunggu antar paspor di KBRI Kuala Lumpur bukanlah masalah baru, sudah terjadi sejak lama dan memang memperburuk citra bangsa karena keduataan tidak mampu menyediakan ruang tunggu yang nyaman. Sehingga, mereka harus memadati jalanan dan trotoar dan menimbulkan kemacetan akibat tidak berdayanya pemerintah kita menyediakan ruangan yang layak," tambahnya.
Dengan adanya kasus meninggalnya Tamam bin Arsyad, HNW berharap ada perbaikan sistem yang dilakukan oleh Kemenlu sehingga pelayanannya dapat lebih baik.
"Kasus saudara kita almarhum pak Tamam harus jadi momentum dan bahan evaluasi perbaikan ke depan oleh Kemenlu, imigrasi dan KBRI KL. Bagaimanya mestinya mekanisme antrian paspor harus dibangun secara lebih manusiawi. Anggaran Kemlu sangat besar untuk melayani dan melindungi WNI, sementara pahlawan devisa juga memberikan kontribusi remitensi yang besar kepada negara," tutupnya.