Dua Kebijakan Putin Hadapi Sanksi Multi Dimensi Barat Dapat Mengubah Konstelasi Perekonomian Global

Oleh: Memed Sosiawan (Ketua Komisi Kebijakan Publik MPP PKS)

Sejak Putin memutuskan untuk melakukan invasi ke Ukraina pada 24 Februari 2022, maka negara-nagara barat yang dipelopori oleh anggota-anggota NATO mulai melakukan sangsi terhadap Rusia. Berbagai macam sangsi diterapkan terhadap Rusia dari mulai sangsi ekonomi, keuangan, militer, perdagangan, energi, transportasi, dan lain-lain. Belum pernah ada negara di dunia yang menerima sangsi sebanyak dan seberat yang diterima oleh Rusia. Menghadapi sangsi multi dimensi tersebut, maka pada akhir Maret 2022, Putin menetapkan dua kebijakan yang dapat merubah konstelasi perekonomian global.

Kebijakan pertama Putin adalah bahwa sejak tanggal 1 April, semua negara yang membeli migas (minyak dan gas) Rusia harus membayarnya dengan mata uang Rusia (Rubel). Setelah melakukan invasi ke Ukraina penggunaan Rubel di pasar global menurun tajam, apalagi ketika semua transaksi finansial yang dilakukan Rusia dikeluarkan dari sistem transfer finansial global (SWITF). Penggunaan ATM, kedit card, transfer keuangan macet total. Apalagi semua aset Rusia di perbankan barat juga dibekukan. 

Di sisi lain Rusia adalah pemasok 40% gas ke Eropa dan mempunyai lifting minyak sebesar 10,7 juta barel perhari setara dengan Arab Saudi dan Amerika. Tidak mudah bagi negara barat tiba-tiba harus mendapatkan pasokan gas pengganti dari luar Rusia pada tenggat waktu 1 April 2022 dalam kondisi musim dingin. Hanya Lithuania yang sudah memutuskan menghentikan impor gas dari Rusia, negara-negara Eropa lainnya masih bimbang terutama Jerman, Perancis, Italy dan lain-lain. Perang Ukraina Rusia menyebabkan terjadinya kelangkaan migas karena sangsi larangan barat terhadap ekspor migas Rusia, sehingga harga migas menjadi naik. Akhirnya migas Rusia tetap bisa mengalir sampai jauh diantaranya melalui pasar gelap (black market) dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasar. China dan India merupakan dua negara yang akan membeli migas Rusia yang sedang murah dengan cara pembayaran sebagaimana yang disyaratkan oleh Rusia.

Kebijakan kedua Putin adalah, Bank of Rusia menetapkan kurs Rubel secara tetap (fix rate), kurs Rubel ditetapkan (peg) setara emas dengan ketentuan 5000 Rubel seharga satu gram emas dari tanggal 28 Maret sampai 30 Juni 2022. Setelah invasi ke Ukraina nilai kurs Rubel jatuh akibat berbagai sangsi dari barat. Pada tanggal 7 Maret 2022 dua minggu setelah invasi kurs US$ adalah 139 Rubel, dan pada tanggal 20 Maret 2022 kurs US$ adalah 132,1 Rubel. Setelah kurs Rubel ditetapkan secara fix rate terhadap emas, maka kurs Rubel semakin menguat mendekati 80 Rubel per US$. Keunggulan penetapan mata uang secara fix rate ini dapat mereduksi inflasi lebih baik dibandingkan dengan penetapan mata uang secara mengambang (floating rate).

Kondisi hari ini kurs US$ adalah 85,75 Rubel. Berapa seharusnya kurs US$ terhadap Rubel kalau dihitung dengan patokan harga emas hari ini? Harga emas hari ini adalah US$ 61,69 per gram, sedangkan harga emas per gram adalah 5000 Rubel, sesuai penetapan Bank of Rusia. Maka itu berarti kurs US$ terhadap Rubel seharusnya adalah 5000/61,69 = 81,05 Rubel (bukan lagi 85,75 Rubel). Penguatan kurs Rubel terhadap US$ akan selaras dengan fluktuasi harga emas.

Kedua kebijakan Putin tersebut dapat diartikan bahwa pembelian migas Rusia dapat dibayar dengan Rubel atau emas, karena nilai Rubel sudah dipatok dengan emas. Semua negara yang menginginkan pertumbuhan ekonominya meningkat selama recovery paska pandemi didukung oleh harga energi yang murah akan mencari migas Rusia seperti China, India, Vietnam dan lain-lain. Indonesia juga berminat terhadap murahnya harga migas dari Rusia, maka Indonesia harus melepas cadangan mata uang US$ atau lainnya untuk ditukar dengan Rubel atau emas agar dapat mengimpor dan membayar migas murah dari Rusia.

Banyak negara yang merespon kedua kebijakan Putin tersebut, misalnya negara-negara Eurasia pecahan USSR (Uni Soviet Sosialis Republik) dan negara BRICS (Brasil, Rusia, China, South Afrika) serta negara lainnya, dengan mulai melepas cadangan US$ untuk ditukar dengan Rubel atau emas sehingga dapat mengimpor migas Rusia. Bahkan BRICS juga sedang menyiapkan sistem transfer finansial global selain SWITF. Langkah puluhan negara tersebut akhirnya melemahkan kurs US$ dan dapat merubah konstelasi perekonomian global yang selama ini setelah Perang Dunia II didominasi oleh Amerika.

Padahal kondisi saat ini sebenarnya kurs US$ sedang kuat-kuatnya karena kebijakan Biden pada awal Januari 2022 lalu yang mencetak uang(quantitative easing policy) senilai US$1,9 triliun terbukti mampu mengangkat keterpurukan ekonomi Amerika selama pandemi, perbaikan ekonomi Amerika ditandai dengan meningkat tingginya inflasi Amerika sampai menyentuh 7%. Tingginya inflasi Amerika tersebut mendorong The Fed mengurangi pasokan peredaran mata uang US$ (tapering off policy) di pasar global dan meningkatkan suku bunga, sehingga sebenarnya nilai US$ dalam posisi yang menguat.

Bauran kebijakan Putin dari sisi komoditas energi dan moneter serta respon dari berbagai negara dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Sebenarnya dengan kedaulatannya Indonesia dapat juga berani melakukan import migas Rusia dan membayarnya dengan Rubel atau emas untuk menekan lonjakan harga migas yang menggerogoti momentum recovery ekonomi paska pandemi dan menyengsarakan rakyat dengan kenaikan harga migas. Atau Indonesia dengan berani dapat juga meniru kebijakan Putin dengan mensyaratkan pembelian komoditas unggulan Indonesia seperti produk sawit yang merupakan terbesar di dunia dan batubara yang merupakan tiga besar dunia serta produk nikel dengan pembayaran dalam Rupiah atau emas (Depok, 4 April 2022).