Info Seputar Crisis Center for Rohingya. Klik di sini!

Berita PKS

Asam Manis Perjalanan Menghafal Al-Qur’an Anak Kedelapan (2)

20 Jun 2016 | 17:31 WIB

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

Metode murajaah yang selama ini Saihul Basyir terapkan adalah setelah selesai 30 juz, ia tidak langsung hafal semua. Lancar-lancarnya menghafal ketika sudah memasuki 15 juz.

“Sulit sekali langsung lancar semua. Rata-rata orang normal bisa menghafal lancar itu perhitungannya dua tahun menghafal, empat tahun melancarkan hafalan. Tapi untuk anak di bawah 16 tahun sepanjang yang saya tahu bisa lebih cepat dari waktu itu,” ucap anak kedelapan dari 10 bersaudara ini.

Basyir membuat metode per pekan. Pekan pertama harus diulang semua 30 juz. Yang sudah lancar ditutup Al-Qur’annya, yang belum lancar dibuka. Ada pun yang bulanan terbagi menjadi dua, yang lancar dan tidak lancar. Yang lancar 20 juz dalam waktu tiga atau empat bulan dimurajaah dan disetorkan semua ke musyrif atau ustadz. “Atau ke partner yang levelnya sama dengan kita. Dan sepuluh hafalan sisanya dimurajaah di waktu quran time. Di waktu yang segar seperti setelah shubuh. Lalu disetorkan bagaimana menyetorkan seperti sebelumnya dalam waktu satu atau dua bulan itu selesai. Bagian yang lancar sama ustadz yang belum lancar ke teman,” ujar pemuda yang setiap sore mengajar di LTQ Al-Hikmah Program 30 Juz ini.

Jika mengalami futur, Basyir mengaku lebih memilih kegiatan eksternal seperti jalan-jalan dan membaca, “Jalan-jalan ke lapangan main bola jalan-jalan ke toko buku atau membaca biografi para ulama besar,”akunya yang pernah mengikuti lomba tahfidz Al-Qur’an  internasional di Kuwait ini.

Ramadhan tahun ini tidak jauh beda seperti ramadhan sebelum-belumnya, aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ini mendapat amanah untuk menjadi imam sholat Isya plus tarawih di beberapa masjid seperti Masjid Al-Hikmah Mampang, PLN Duren Tiga, Deplu Cipete, masjid Said Naum Tanah Abang, Al-Iman Cipinang dan di masjid dekat rumahnya Al-Kautsar.

“Masjid yang dekat rumah itu belum saya singgahi (diimami tarawih) sampai sekarang he-he-he,” katanya yang sempat menolak tawaran menjadi imam di tempat lain karena memang agenda menjadi imam sudah penuh.

Ke depan, ia punya impian membangun rumah Al-Qur’an. Saat ini ia bersama dengan ibunya pelan-pelan mencoba merealisasikannya. “Intinya sebelum usia 30 harus terwujud,” tutur pemuda 22 tahun itu yang kagum selain dengan Nabi Muhammad SAW dan Utsman, juga kagum pada Sayyid Qutb, Abul A’la al Maududi, Hasan Albanna, Diponegoro dan Muhammad Natsir yang punya integritas tinggi.