Quran Session Inspirasi Tokoh: PKS Dorong Gerakan Belajar Al-Quran untuk Lansia hingga Rumah Quran di Tiap Kelurahan
Jakarta — Program penguatan literasi Al-Qur’an menjadi salah satu fokus dalam rangkaian kegiatan Quran Session Inspirasi Tokoh pada acara 12 Jam Marathon Quran yang diselenggarakan di Kantor DPTP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahad (8/3/2026).
Dalam sesi ini hadir dua narasumber, Ketua BPUKB PKS Lampung Suseno Setio Budi dan Founder Rumah Qur’an Jakarta Riyadus Solihin, yang berbagi pengalaman membangun gerakan pembelajaran Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Suseno Setio Budi menjelaskan bahwa PKS Lampung secara khusus mengembangkan program BBQ Lansia (Bina Baca Qur’an) yang ditujukan bagi para lanjut usia.
Program ini menjadi salah satu program unggulan yang diluncurkan langsung oleh Presiden PKS Almuzzammil Yusuf.
Menurutnya, program tersebut telah berjalan selama tiga bulan dan saat ini sudah dilaksanakan di satu kota dan tiga kabupaten di Provinsi Lampung.
“Di PKS Lampung secara khusus kami mengelola BBQ Lansia, yaitu program Bina Baca Qur’an khusus untuk lansia. Program ini menjadi program unggulan yang diluncurkan langsung oleh Presiden PKS, Almuzzammil Yusuf, dan sudah berjalan selama tiga bulan di satu kota dan tiga kabupaten,” ujar Suseno.
Ia menjelaskan bahwa metode pembelajaran dalam program tersebut dimulai dari dasar, yaitu menggunakan Iqra 1 untuk mengenalkan kembali huruf-huruf hijaiyah kepada para peserta.
“Dalam program ini kami tidak langsung mengajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi dimulai dari Iqra 1, belajar membaca huruf-huruf dasar. Mengapa lansia? Karena anak-anak biasanya sudah belajar sejak TK atau PAUD, sementara para lansia ini mungkin dulu pernah belajar, tetapi di usia senja banyak yang mulai lupa,” jelasnya.
Suseno menambahkan, program ini bukan hanya membantu lansia kembali belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang penuh semangat.
“Karena itu kami mengajak mereka mengaji bersama kembali. Menariknya, ketika berkumpul mereka justru sangat bersemangat, meskipun harus dimulai lagi dari alif, ba, ta, tsa. Program ini juga diberikan secara gratis,” katanya.
Sementara itu, Founder Rumah Qur’an Jakarta Riyadus Solihin menyampaikan bahwa gerakan Rumah Qur’an berangkat dari keprihatinan terhadap masih rendahnya tingkat kemampuan membaca Al-Qur’an di Indonesia.
Ia mengungkapkan, berdasarkan sejumlah data, sekitar 72,5 persen masyarakat Indonesia belum bisa membaca Al-Qur’an.
“Program ini bermula dari keprihatinan terhadap data yang menyebutkan bahwa sekitar 72,5 persen masyarakat Indonesia tidak bisa membaca Al-Qur’an. Bagi kami para dai, ini bukan sekadar angka statistik, tetapi berarti masyarakat kehilangan berbagai akses kebaikan yang sebenarnya bermula dari Al-Qur’an,” ujarnya.
Menurut Riyadus, kondisi tersebut menjadi alasan penting untuk menghadirkan program yang lebih sistematis dalam mendekatkan masyarakat dengan Al-Qur’an, salah satunya melalui pendirian Rumah Qur’an di tingkat kelurahan.
“Karena itu kami memastikan bahwa setiap kelurahan memiliki Rumah Qur’an. Tujuannya bukan hanya meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga membuka akses terhadap berbagai nilai dan kebaikan yang bersumber dari Al-Qur’an,” jelasnya.
Saat ini, kata dia, gerakan tersebut telah melahirkan 203 Rumah Qur’an di berbagai kelurahan.
“Ke depan ini bukan sekadar sebuah program, tetapi menjadi jembatan yang menghubungkan hati masyarakat dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Melalui Rumah Qur’an ini, kami ingin menyiapkan masyarakat dengan nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari Al-Qur’an,” tutupnya.