PKS Gelar Pelatihan Pendampingan Krisis Keluarga, Tekankan Pentingnya Psychological First Aid

JAKARTA — Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka) DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menggelar Pelatihan Konsultan Keluarga RKI bertema “Mendampingi Keluarga Menghadapi Krisis (Psychological First Aid)” di Kantor DPTP PKS, Jakarta, Ahad, (10/5/2026).

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pemateri, salah satunya praktisi konselor keluarga Kisma Fawzea.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Psychological First Aid (PFA) merupakan pertolongan pertama secara psikologis yang dapat dilakukan kepada individu yang sedang mengalami krisis atau peristiwa yang sangat mengganggu kondisi mentalnya.

“Semua orang dapat memberikan PFA. Ini merupakan keterampilan dasar yang penting dimiliki setiap orang,” ujar Kisma.

Ia menyampaikan, data statistik tahun 2024 menunjukkan angka bunuh diri pada laki-laki mencapai sekitar 60 hingga 70 persen, terutama pada rentang usia produktif 26 sampai 40 tahun.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari persoalan ekonomi, pekerjaan, hingga perundungan (bullying).

“Hal ini menjadi gambaran bahwa krisis tidak mengenal gender. Perempuan maupun laki-laki sama-sama bisa mengalaminya. Karena itu, penting menerapkan prinsip look, listen, dan link dalam pendampingan,” katanya.

Kisma menjelaskan, seorang pendamping atau helper perlu memiliki kepekaan terhadap kondisi orang yang sedang membutuhkan dukungan. Pendamping diharapkan mampu mendengarkan secara aktif serta membantu menghubungkan individu yang mengalami krisis dengan dukungan atau layanan yang sesuai.

Menurutnya, PFA bukan bentuk konseling profesional maupun solusi instan atas persoalan yang kompleks.

Namun, pendekatan tersebut bertujuan membantu menstabilkan emosi seseorang sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tenaga profesional.

“PFA tidak menyelesaikan masalah yang kompleks, melainkan membantu menstabilkan emosi dan menghubungkan individu dengan praktisi yang sesuai dengan kepakarannya,” ujarnya.

Pelatihan ditutup dengan sesi praktik penerapan materi. Para peserta diminta berpasangan untuk saling mendengarkan dan mendampingi satu sama lain dalam menceritakan persoalan maupun krisis yang sedang dihadapi.