Nurisa Persembahkan Emas Kelima, PKS: Terima Kasih Atlet Indonesia

Jakarta, 1 Oktober 2026 — Kontingen Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif dalam ajang Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Indonesia naik ke posisi 13 klasemen sementara perolehan medali dan hingga Kamis (1/10) telah mengoleksi lima medali emas.

Medali emas kelima Indonesia dipersembahkan Nurisa Dian Ashrifah setelah berhasil mengalahkan pemanah Filipina pada nomor compound women's individual. Prestasi tersebut menambah koleksi emas Indonesia sekaligus menunjukkan kontribusi atlet dari cabang olahraga panahan di pentas olahraga Asia.

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Ketua DPP PKS Bidang Pengembangan dan Pembinaan Olahraga Defrizal Siregar. Ia menyampaikan penghargaan kepada seluruh atlet, pelatih, ofisial, dan pihak-pihak yang telah bekerja keras mengharumkan nama Indonesia di kancah olahraga Asia.

“Terima kasih kepada seluruh atlet Indonesia. Setiap pertandingan, perjuangan, dan medali yang dipersembahkan adalah kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Selamat kepada Nurisa Dian Ashrifah yang telah mempersembahkan emas kelima untuk Indonesia. Ini adalah buah dari kerja keras, disiplin, pengorbanan, dan doa yang panjang,” kata Defrizal.

Menurutnya, prestasi di Asian Games tidak semestinya hanya dipandang sebagai pencapaian pada sebuah kompetisi, tetapi juga menjadi momentum untuk mengevaluasi dan memperkuat sistem pembinaan olahraga nasional.

“Emas bukan kebetulan ia lahir dari pembinaan yang serius,” tegasnya.

Defrizal menilai keberhasilan atlet Indonesia harus menjadi dorongan untuk membangun ekosistem olahraga yang mampu menemukan dan membina talenta sejak usia dini hingga mencapai prestasi internasional.

“Kalau kita ingin medali emas terus lahir, maka pembinaannya harus menjadi sistem. Mulai dari pencarian bakat, pembinaan usia dini, kompetisi berjenjang, kualitas pelatih, sport science, fasilitas latihan, kesejahteraan atlet, hingga dukungan ketika atlet memasuki masa puncak prestasinya,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesinambungan pembinaan agar atlet tidak hanya dipersiapkan menjelang ajang besar. Menurutnya, pembangunan prestasi olahraga membutuhkan perencanaan jangka panjang dan koordinasi antara pemerintah, organisasi olahraga, dunia pendidikan, klub, pelatih, serta masyarakat.

“Jangan sampai kita baru mencari atlet ketika Asian Games atau Olimpiade sudah di depan mata. Kita harus menyiapkan mereka bertahun-tahun sebelumnya. Atlet berprestasi harus lahir dari sistem yang terencana, bukan dari keberuntungan atau kerja keras sesaat,” tutur Defrizal.

Capaian Indonesia di Aichi-Nagoya, lanjut dia, juga perlu menjadi bahan evaluasi untuk melihat cabang olahraga mana yang memiliki potensi besar dan membutuhkan penguatan pembinaan secara konsisten.

“Setiap medali harus kita rayakan, tetapi setiap medali juga harus kita pelajari. Dari sana kita bisa mengetahui apa yang sudah berjalan baik, apa yang masih kurang, dan bagaimana membangun pembinaan yang lebih kuat untuk generasi berikutnya,” katanya.

Defrizal berharap perjuangan kontingen Indonesia di Asian Games 2026 dapat menginspirasi semakin banyak anak muda untuk menekuni olahraga sekaligus mendorong hadirnya kebijakan olahraga yang lebih berorientasi pada pembinaan jangka panjang.

“Sekali lagi, terima kasih kepada para atlet yang sedang berjuang. Teruslah memberikan yang terbaik. Tugas kita setelah ini adalah memastikan perjuangan mereka tidak berhenti sebagai cerita tentang medali, tetapi menjadi fondasi bagi lahirnya generasi juara berikutnya,” pungkasnya.