Kholid: Ayah Bukan Sekadar Pencari Nafkah, tapi Co-Creator Masa Depan Anak

JAKARTA — Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muhammad Kholid menegaskan bahwa peran ayah dalam keluarga tidak cukup hanya sebagai pencari nafkah (provider). Ayah juga harus hadir sebagai pemimpin, pendidik, sahabat, kolaborator, hingga co-creator bagi anak-anaknya.

Hal tersebut disampaikan Kholid dalam Sharing Session Training for Trainer (TFT) Forum Ayah Nasional yang diselenggarakan Bidang Perempuan dan Keluarga DPP PKS, Jumat (2/10/2026).

Menurut Kholid, TFT Forum Ayah Nasional menjadi momentum untuk merumuskan model dan grand design pengarusutamaan keluarga dengan menghadirkan kembali figur ayah sebagai salah satu sentral ketahanan keluarga.

“Semoga dengan Training for Trainer ini kita mendapatkan model bagaimana pesan dan grand design untuk menguatkan pengarusutamaan keluarga dengan figur ayah yang menjadi sentral dalam isu ini,” ujar Kholid.

Kholid menyoroti fenomena fatherless yang tidak hanya dimaknai sebagai ketiadaan ayah secara fisik, tetapi juga dapat terjadi ketika seorang ayah hadir secara fisik namun tidak hadir secara mental, psikologis, maupun emosional.

“Kalau yang secara fisik memang karena wafat atau pekerjaan, tentu ada kondisi yang sulit kita kendalikan. Tetapi kalau ayahnya ada secara fisik namun secara emosional tidak hadir, ini yang perlu kita perbaiki,” jelasnya.

Karena itu, Kholid mendorong agar kehadiran ayah dibangun secara utuh, mulai dari aspek fisik, mental, psikologis, emosional, hingga spiritual.

Belajar dari Para Ayah dalam Al-Qur'an

Kholid mengajak para ayah untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah dalam Al-Qur'an, khususnya pola relasi antara ayah dan anak yang dibangun melalui dialog.

Ia mencontohkan dialog Luqman dengan anaknya, Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, serta Nabi Yaqub dengan Nabi Yusuf.

“Menariknya, konsep parenting yang ada dalam Al-Qur'an banyak diisi dengan dialog antara ayah dan anaknya. Bukan perintah, tetapi dialog,” kata Kholid.

Menurutnya, Nabi Ibrahim merupakan contoh bagaimana seorang ayah dapat bersikap tegas terhadap prinsip sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk berpikir dan menyampaikan pendapat.

“Figur yang ingin dimunculkan di dalam Al-Qur'an adalah figur yang tumbuh dengan dialog, dengan kasih sayang, lemah lembut tetapi tegas dengan prinsipnya,” tuturnya.

Kholid juga menilai hubungan antara Nabi Yaqub dan Nabi Yusuf menunjukkan pentingnya rasa aman dan kepercayaan antara anak dengan ayah. Ketika mendapatkan mimpi, Nabi Yusuf memilih menceritakannya kepada ayahnya.

“Anak harus merasa bahwa ayah adalah tempat yang aman untuk menyampaikan sesuatu yang rahasia. Ada trust, ada rasa nyaman, ada rasa aman,” ujarnya.

Tauhid Harus Menjadi Prioritas

Lebih jauh, Kholid mengingatkan bahwa pendidikan seorang ayah tidak boleh hanya berorientasi pada prestasi akademik anak. Tauhid dan keimanan harus menjadi prioritas utama.

Ia membagikan pengalaman pribadi bersama ayahnya yang tidak terlalu menuntut pencapaian akademik, tetapi sangat tegas dalam urusan salat.

“Bapak saya tidak pernah menuntut nilai saya bagus di sekolah. Tapi kalau saya tidak salat, marahnya seperti kiamat,” ungkap Kholid.

Menurutnya, pengalaman tersebut mengajarkan pentingnya membedakan antara sesuatu yang prinsip dan sesuatu yang merupakan bonus.

“Jangan sampai kalau nilai matematika jelek kita marah luar biasa, tetapi kalau anak tidak salat kita biasa-biasa saja. Anak akan menangkap bahwa matematika lebih penting daripada keimanan dan salat,” katanya.

Kholid juga mengingatkan bahwa kecerdasan anak memiliki banyak bentuk. Karena itu, orang tua tidak perlu memaksakan anak untuk unggul dalam bidang tertentu, tetapi harus memastikan nilai tauhid, keimanan, dan akhlak tertanam kuat.

Dari Provider Menjadi Co-Creator

Dalam membangun ketahanan keluarga, Kholid menyebut ayah memiliki banyak peran sekaligus: sebagai qawwam, pemimpin, pelindung, pembimbing, provider, dan educator.

Namun, menurutnya, tantangan zaman membutuhkan peningkatan kualitas relasi antara ayah dan anak. Ayah tidak cukup hanya memberikan perintah, nasihat, atau larangan.

“Bukan hanya menjadi provider dan educator, tetapi menjadi teman, menjadi kolaborator, menjadi co-creator. Ini sudah next level,” tegas Kholid.

Ia mencontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang bersama-sama membangun Ka'bah. Menurutnya, Nabi Ibrahim tidak hanya menyampaikan nasihat kepada Ismail, tetapi mengajak anaknya terlibat langsung dalam sebuah misi besar.

“Bukan menyampaikan, bukan memberikan tausiah, bukan memberikan nasihat, tetapi berjalan bersama-sama. Membangun tauhid,” jelasnya.

Pola tersebut, lanjut Kholid, menunjukkan bahwa seorang ayah perlu membangun kebersamaan dengan anak dalam menjalankan nilai dan misi kehidupan.

“Sehingga anak-anak kita bisa menjalankan risalah sebagaimana guru-guru kita dan para ayah kita yang sudah mengajarkan kita kebaikan,” katanya.

Ayah dan Tantangan Generasi Masa Kini

Kholid menilai kehadiran ayah juga penting dalam mempersiapkan generasi menghadapi berbagai tantangan sosial yang berkembang.

Ia mengingatkan agar keluarga mampu membentuk anak-anak yang memiliki ketahanan mental, karakter, keimanan, dan kesiapan menghadapi persoalan kehidupan.

“Jangan sampai lahir generasi yang tidak siap menghadapi hal-hal yang harus dihadapi. Seorang ayah harus hadir untuk mempersiapkan anak,” ujarnya.

Menurut Kholid, ketahanan keluarga merupakan salah satu fondasi penting bagi ketahanan masyarakat dan bangsa. Karena itu, penguatan peran ayah perlu menjadi gerakan bersama.

Menutup paparannya, Kholid mengapresiasi penyelenggaraan TFT Forum Ayah Nasional dan berharap program tersebut dapat direplikasi hingga ke DPW-DPW PKS.

“Saya sangat menyambut baik. Semoga ini bisa direplikasi ke DPW-DPW dan menguatkan pengarusutamaan keluarga kita. Dengan hadirnya ayah-ayah yang hebat, akan terbentuk keluarga-keluarga yang tangguh dan kuat menghadapi segala situasi,” pungkasnya.