Ketika Piala Dunia, Messi dan Dolar Bertemu

Oleh Handi Risza

Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri

Ada dua hal yang membuat jutaan orang Indonesia mendadak menjadi ahli dalam semalam. Pertama, Piala Dunia dan Kedua adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar. Keduaya bisa membuat orang Indonesia happy sejenak dari beban hidup dan sekaligus pusing tujuh keliling.

Saat Piala Dunia berlangsung, semua orang mendadak menjadi analis sepak bola sekelas Bung Towel. Tetangga yang biasanya tidak tahu perbedaan offside dan onside tiba-tiba bisa menjelaskan formasi 3-4-3 seperti pelatih tim nasional.

Sementara ketika dolar naik, semua orang berubah menjadi ekonom kawakan. Grup WhatsApp keluarga yang biasanya ramai membahas resep masakan dan tips menurunkan berat badan, mendadak dipenuhi analisis tentang Federal Reserve, suku bunga, dan perang dagang, lengkap dengan teori-teorinya.

Yang lebih menarik, Piala Dunia dan dolar sebenarnya memiliki hubungan yang lebih dekat daripada yang kita bayangkan. Kalau Piala Dunia adalah pesta sepak bola terbesar di dunia, maka dolar adalah uang yang digunakan untuk membayar pesta empat tahunan itu.

Dolar sebagai Kapten Tim Piala Dunia

Mari mulai dari fakta sederhana. Piala Dunia memang dimainkan dengan bola, tetapi dikelola dengan dolar. Tidak percaya, hadiah untuk juara, bonus peserta, kontrak sponsor, hak siar televisi, hingga penjualan tiket internasional sebagian besar dihitung dalam mata uang dolar AS.

Karena itu, ketika sebuah negara memenangkan Piala Dunia, yang dibawa pulang oleh pemain bukan hanya trofi emas, tetapi pundi-pundi yang penuh dengan jutaan dolar dan lonjakan harga transfer yang nilainya bisa setara degan anggaran satu Kementerian.

Pada Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di tiga negara Amerika Utara, total hadiah Piala Dunia mencapai $871 juta (sekitar Rp15,67 triliun). Bahkan Piala Dunia 2026 diproyeksikan menjadi yang paling menguntungkan dalam sejarah FIFA dengan pendapatan yang diperkirakan US$10,9 miliar (sekitar Rp196 triliun) dan dampak ekonomi global hingga lebih dari US $40 miliar (sekitar Rp710 triliun)

Bayangkan saja, di lapangan para pemain mengejar bola. Di stadion penonton rela mengeluarkan kocek hingga ribuan dolar hanya untuk menonton bola, Sedangkan di luar lapangan, sponsor mengejar miliaran dolar.

Kalau sepak bola punya kapten tim, ekonomi dunia juga punya, namanya dolar Amerika Serikat. Sekitar 58 persen cadangan devisa dunia masih disimpan dalam dolar. Sebagian besar perdagangan internasional, termasuk energi, komoditas, dan transaksi global juga menggunakan dolar sebagai mata uang utama.

Artinya, ketika dolar bersin, hampir seluruh dunia ikut mencari tisu. Tidak terkecuali Indonesia. Ketika dolar menguat terhadap rupiah, harga barang impor naik, harga BBM naik, termasuk harga tahu dan tempe yang jadi makanan favorit orang desa. Walaupun orang desa gak pakai dolar saat berbelanja di warung.

Ketika Messi Lebih Berpengaruh dari Kebijakan Pemerintah

Jangan salah menilai Piala Dunia hanya sebagai sebuah tontonan belaka. Ada saat-saat ketika pemain sepak bola bisa menggerakkan ekonomi lebih cepat dan hebat daripada kebijakan pemerintah sekalipun.

Saat Piala Dunia berlangsung bisa dipastikan dolar masuk kesemua sektor ekonomi, industri pakaian dan sepatu, hotel dan restoran, transportasi, UMKM, iklan media sosial. Semua aktivitas itu mengalirkan miliaran dolar tanpa henti selama turnamen berlangsung.

Bisa dibayangkan, ketika seorang bintang seperti Lionel Messi bermain, hotel penuh, harga tiket melonjak, penjualan jersey meningkat, restoran ramai, penerbangan bertambah. Fenomena yang sama terjadi ketika negara-negara besar seperti Argentina, Brazil, England atau France bertanding Sepak bola menciptakan permintaan ekonomi.

Dan dalam ekonomi modern, permintaan adalah raja (demand is King). prinsip bisnis yang menyatakan bahwa permintaan konsumen (daya beli dan kebutuhan pasar) adalah faktor penentu paling utama bagi kesuksesan, arah, dan keberlanjutan sebuah perusahaan.

Pelajaran untuk Indonesia

Lalu apa hubungan semua ini dengan Indonesia? Banyak. Indonesia mungkin belum pernah bermain di Piala Dunia. Tetapi, ikut merasakan dampak ekonominya. Konon stasiun TV membeli hak siar hingga mencapai USD65 juta atau setara dengan Rp1,3 triliun, bisnis jersey, paket internet tambahan dan tentu saja kopi dan kacang untuk begadang.

Jutaan orang Indonesia sedang membeli harapan bahwa suatu hari Timnas Indonesia akan tampil di panggung terbesar dunia. Lebih penting lagi, Piala Dunia menunjukkan bagaimana olahraga bisa menjadi industri ekonomi yang sangat besar menghidupi sebuah negara.

Selama ini sebagai pihak memandang olahraga sebagai biaya. Padahal di banyak negara maju, olahraga adalah investasi dan industri. Multiplier effectnya mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan pariwisata, mendorong industri kreatif, menarik sponsor danan menghasilkan devisa yang sangat besar.

Ekonomi adalah kepercayaan (trust) kata pemenang Nobel Ekonomi Kenneth Arrow. Piala Dunia dan dolar sama-sama berhasil membangun kepercayaan publik. Keduanya dibangun di atas kepercayaan. Dolar bernilai karena dunia masih percaya pada sistem ekonomi Amerika Serikat. Piala Dunia bernilai karena dunia percaya pada keajaiban sepak bola.

Tidak ada yang bisa menjamin tim terbaik akan selalu menang. Tidak ada yang bisa menjamin kurs dolar akan selalu stabil. Tetapi miliaran orang tetap mempercayainya. Dan kepercayaan itulah yang menciptakan nilai dan menggerakkan miliaran orang setiap harinya.

Penutup

Pada akhirnya, Piala Dunia dan dolar Amerika adalah dua simbol globalisasi yang berbeda. Yang satu dimainkan dengan kaki, Yang satu dimainkan dengan angka. Yang satu membuat orang berteriak karena gol menit ke-90. Yang satu membuat orang panik karena kurs naik 90 poin.

Namun keduanya mengajarkan pelajaran yang sama, yaitu dunia modern bukan hanya soal olahraga atau ekonomi. Keduanya saling terhubung. Karena itu, jangan heran jika suatu malam seorang analis pasar uang begadang menonton final Piala Dunia sambil sesekali membuka indeks kurs dolar. Ternyata jalan menuju gawang dan jalan menuju pasar keuangan sering kali berada di stadion yang sama.

Entah sampai kapan harus menunggu Timnas bertanding di Piala Dunia. Tetapi minimal memiliki Tim Nasional yang dikelola secara professional, liga yang berkualitas dan tentu saja pengurus federasi yang punya kredibilitas dan kapabilitas yang mumpuni. Jalan masih panjang menuju Piala Dunia dan rupiah masih akan berjibaku menghadapi dolar.