Kalajengking dan Ilusi Menjadi Kaya

Handi Risza
Sekretaris Bidang Ekuinteklh DPP PKS

Dalam pekan ini publik sedang diramaikan berita mengenai jatuhnya korban anak yang terinjak-injak ketika pembagian sembako gratis di Monas Jakarta, pada Sabtu (28/4/2018).

Selang beberapa waktu publik juga dikejutkan dengan pernyataan Presiden Jokowi di depan kepala daerah dalam acara Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrembangnas), Senin (30/4/2018), agar masyarakat beternak kalajengking. Sebab, harga racunnya bisa mencapai US$ 10,5 juta atau Rp145 miliar per liter.

Entah apa yang ada di benak Pak Jokowi ketika menyampaikan usulan tersebut, tapi terlepas dari hanya sekadar gurauan atau tidak, pernyataan tersebut bisa dibaca sebagai jalan pintas untuk bisa menjadi kaya, tapi parahnya dianjurkan oleh pemimpin.

Jelas terbaca, di satu sisi pemimpin dan negara alpa dalam peristiwa pertama, kurang peka dengan kondisi warganya sehingga menyebabkan jatuh korban, sedangkan peristiwa kedua pemimpin hadir tapi memberikan jalan keluar yang tidak seharusnya dilakukan, apalagi di depan kepala daerah.

Dua peristiwa tersebut juga menyentakkan nurani dan akal sehat kita. Sudah sedemikian parah kah tingkat kemiskinan di negara ini, sehingga hanya untuk mendapatkan sembako gratis masyatakat rela berduyun-duyun, tanpa peduli dengan keselamatan jiwa mereka bahkan juga anak-anak mereka bawa.

Alpanya kehadiran pemerintah dalam pembagian sembako gratis tersebut patut disesalkan, padahal dibagikan tepat di etalase Ibu Kota Jakarta. Harusnya pemerintah dan para pemimpinnya arif dalan melihat kondisi masyarakat yang sangat rentan dengan pembagian sembako gratis.

Selama tiga tahun masa Pemerintahan Jokowi, termasuk yang paling lemah dalam mengurangi angka kemiskinan. Padahal sudah banyak kebijakan dan program yang dikeluarkan tapi belum berefek kepada penurunan angka kemiskinan secara signifikan.

Dalam tiga tahun terakhir ini, pemerintahan Jokowi sudah meluncurkan program yang terkait pengentasan kemiskinan, antara lain: Program Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dengan capaian 5,9 juta keluarga; Program Kartu Indonesia Sehat (KIS) dengan capaian 92,2 juta orang; dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dengan capaian 18,9 juta siswa. Namun sangat disayangkan program-program tersebut belum berkorelasi langsung terhadap pengurangan jumlah penduduk miskin bahkan terjadi penambahan jumlah penduduk miskin.

Selama dua tahun dari 2014-2016, terjadi penambahan jumlah penduduk miskin dari 27,73 juta jiwa (10,96%) menjadi 27,76 juta jiwa (10,70%). Bahkan pada bulan maret 2017 jumlah penduduk miskin masih bertambah menjadi 27,77 juta jiwa. Selama dua tahun ada penambahan penduduk miskin sebesar 30 ribu jiwa, dengan laju penambahan jumlah penduduk miskin sebesar 15 ribu per tahun, meskipun secara prosentase terhadap total penduduk Indonesia terdapat laju pengurangan jumlah penduduk miskin sebesar 0,13% per tahun.

Angka tersebut menunjukkan program-program yang sudah diluncurkan Pemerintah tidak efektif terhadap pengurangan angka kemiskinan, bahkan sebaliknya angka kemiskinan makin membesar.

Jadi, tidak aneh jika kondisi kemiskinan warga masyarakat tersebut, dimanfaatkan oleh individu atau ormas tertentu, untuk kepentingan tertentu, tanpa lagi mempedulikan ketertiban bahkan keselamatan warga.

Hari ini kemiskinan telah menjadi komoditas yang dimanfaatkan oleh segelintir elit untuk mencapai kepentingan tertentu. Pemerintah harus hadir untuk memutus mata rantai ini, hentikan eksploitasi orang miskin dengan program-program yang tepat sasaran dan bisa memberikan kehormatan dan melindungi harga diri bagi setiap warga negara.

Mungkin bisa jadi karena persoalan kemiskinan dan ketimpangan tidak kunjung berkurang, Presiden Jokowi berinisiatif memberikan jalan keluar yaitu beternak kalajengking, padahal ini bisa menjadi ilusi untuk bisa segera menjadi kaya. Tidak terbayangkan setelah ini akan terdapat tren ribuan masyarakat memelihara kalajengking sebagai jalan pintas untuk menjadi kaya. Sekali lagi ini hanya ilusi ketika pemimpin tidak mampu memberikan solusi yang seharusnya. Wallahu'alam