Di TFT Forum Ayah Nasional, KH. Abdul Aziz: Ayah Qur'ani adalah Ayah yang Hebat

JAKARTA — DPP Partai Keadilan Sejahtera menyelenggarakan Training for Trainer (TFT) Forum Ayah Nasional dengan mengangkat tema "Membangun Pemimpin Keluarga, Menggerakkan Perubahan" yang akan berlangsung selama dua hari Kamis-Jumat (1-2/10/2026) di Kantor DPTP PKS.

Kegiatan yang diprakarsai Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka) ini mengumpulkan penggerak Forum Ayah dari seluruh Indonesia untuk dibekali berbagai materi.

Pada hari pertama, Pengurus Bidang Kaderisasi Anggota Partai (BKAP) DPP PKS KH. Abdul Aziz Abdurrauf menyampaikan bahwa ayah yang hebat adalah ayah yang Qur'ani.

"Menjadi ayah itu bukan satu kebetulan, bukan sebuah kemauan, tapi aslinya adalah fitrah manusia. Jadi selama fitrahnya terus dibangun dengan Al Qur'an, maka insya Allah para ayah sudah jadi ayah Qur'ani, sudah jadi ayah hebat secara otomatis," ungkapnya.

Abdul Aziz juga menyampaikan bahwa menjadi ayah adalah sebuah amal saleh. Dengan menjadi ayah, sekecil apapun kebaikan yang dilakukan kepada istri dan anak-anaknya akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah.

"Yang kamu lakukan terhadap istri dan anakmu itu semua ada pahala yang besar di sisi Allah. Tapi kalau secara maknawiyah pahala ini melemah atau menghilang, maka otomatis tidak punya motivasi, tidak punya energi, yang ada adalah capek jadi suami dan ayah," ujar Abdul Aziz.

Ia juga memaparkan bahwa ada lima penyebutan suami atau ayah di dalam Al Qur'an. Meskipun sama-sama diartikan ayah, tetapi maknanya mengandung karakteristik berbeda.

"Pertama disebut ba'lun. Apabila suami atau ayah betul-betul sebagai orang yang melindungi, penuh perhatian, sayang, oenuh kebaikan kebaikan, semua akhlak yang baik itu ada, maka itu disebut ba'lun," paparnya.

Kedua adalah walidun yang bermakna memiliki garis keturunan, darah dagingnya. Selanjutnya adalah al-mauludi lahu yang bermakna penganggung jawab yang menanggung nafkah keluarganya.

Kemudian disebut juga ar-rijalu. Jadi suami disebut ar-rijal karena dia punya rujulah, sebuah sikap ksatria yang qawwamah, memiliki rasa tanggung jawab kepada istri dan anak-anaknya

"Disebut qawwamah apabila ayah semangat ibadahnya semangat mencari nafkahnya. Tidak untuk menguasai atau menjajah keluarganya, tapi dia memperlakukan mereka dengan penuh cinta, penuh hormat, dan syura. Itu yang disebut dengan qawwamah yang diinginkan oleh Al Qur'an," lanjutnya.

Terakhir adalah zaujun yang bermakna berpasangan. Allah telah menakdirkan manusia untuk berpasangan dan Allah persatukan mereka meskipun ada perbedaan latar belakang yang ekstrem.