Child Free Bukan Tren Tapi Tanda Ketidakpastian Hidup, PKS Dorong Kebijakan Pro Keluarga
Jakarta, 7 Juli 2025 — Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga, Anis Byarwati, menanggapi fenomena child free dengan menggarisbawahi perlunya pemahaman yang lebih utuh terhadap persoalan tersebut.
Merujuk pada laporan tahunan State of World Population (SWP) 2025 yang dirilis Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) pada awal Juli lalu, Anis menyebut bahwa keputusan untuk tidak memiliki anak tidak bisa dipandang sebagai semata-mata pilihan gaya hidup.
“Kalau kita melihat laporan ini, khususnya untuk Indonesia, tidak semua orang yang tidak punya anak itu karena tidak ingin punya anak. Banyak yang merasa tidak mampu secara ekonomi dan sosial untuk membangun keluarga,” ujar Anis dalam keterangannya di Jakarta, Senin (7/7/2025).
Laporan UNFPA yang mengumpulkan data dari 14 negara, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa tiga alasan utama masyarakat Indonesia tidak memiliki jumlah anak yang ideal adalah keterbatasan finansial (39 persen), keterbatasan perumahan (22 persen), dan ketidakamanan pekerjaan atau pengangguran (20 persen).
Selain itu, kekhawatiran terhadap situasi global juga menjadi salah satu faktor yang mendorong keputusan ini.
“Lebih dari 70 persen warga Indonesia dalam survei tersebut sebenarnya ingin punya dua anak atau lebih. Maka, ini bukan tentang keengganan, tetapi soal rasa tidak aman baik secara ekonomi maupun sosial,” jelas Anis.
Ia menekankan, negara harus hadir dengan kebijakan dan dukungan konkret agar keluarga Indonesia, terutama pasangan muda, dapat membangun keluarga dengan rasa aman dan siap secara finansial.
Hal ini penting untuk mencegah narasi child free berkembang karena situasi yang memaksa, bukan karena pilihan sadar.
“PKS sebagai partai yang sangat concern terhadap pembinaan keluarga menganggap ini isu yang sangat penting. Karena keluarga adalah pilar sekaligus inti dari sebuah peradaban,” tutup Anis. (AryaJP)