Chief Economist Bank Mandiri: Risiko Iklim Perlu Masuk Perhitungan Kebijakan dan Manajemen Perbankan
JAKARTA — Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengingatkan bahwa meningkatnya risiko perubahan iklim dan bencana alam berpotensi menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dan sektor keuangan nasional. Hal tersebut disampaikannya dalam Webinar Refleksi Akhir Tahun 2025 dan Outlook Ekonomi 2026 yang diselenggarakan oleh Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Ekuin) DPP PKS.
Andry menjelaskan bahwa peningkatan frekuensi bencana alam akibat perubahan iklim tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga membawa risiko ekonomi dan keuangan yang signifikan. Berdasarkan perhitungannya, bencana banjir dan longsor di tiga provinsi di Sumetara menimbulkan potensi kerugian ekonomi sekitar Rp52 triliun.
“Dampak ekonomi bencana ini bahkan lebih besar dibandingkan dampak jangka pendek tsunami Aceh,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa risiko iklim perlu diintegrasikan secara serius dalam perencanaan kebijakan dan manajemen risiko, terlebih di tahun 2026 kita akan menghadapi fenomena La Nina yang membuat curah hujan lebih tinggi.
"Jadi kita juga perlu di luar dari tantangan risiko geopolitik, makro ekonomi global, dan domestik, perlu juga untuk menciptakan atau menyiapkan mitigasi dan juga kemudian menyiapkan menghitung kembali dampak dan protokol dari terjadinya bencana. Sehingga ke depannya mitigasi terhadap atau kesadaran terhadap dampak bencana ini perlu juga digabungkan kepada dunia usaha termasuk juga perbankan," ungkap Andry.
Secara keseluruhan, Andry melihat potensi pertumbuhan yang relatif tinggi di tahun 2026 mendatang, sekitar 5,18%. Terlebih dengan belanja pemerintah yang sudah dilakukan dari semester 2 2025 dan momentum Ramadhan di kuartal awal 2026 diperkirakan akan meningkatkan belanja rumah tangga.
"Catatan buat Bapak Ibu di parlemen adalah mendorong dan mengadvokasi pemerintah untuk mengakselerasi belanja, karena kalau kita bicara dari sisi belanja pemerintah bukan hanya dari sisi pusat tapi kepada akselerasi belanja ini yang kita bisa ambil hikmah dari tahun 2025 kemarin bahwa belanja terlambat itu kemudian menghilangkan momentum pertumbuhan ekonomi," paparnya.
Ia juga melihat pentingnya dukungan untuk dua sektor manufaktur dan pertanian perkebunan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi lebih agresif mencapai 6%.