Ariza Agustina: Perjuangan Kartini Belum Usai, Perempuan Masih Hadapi Hambatan Struktural
Jakarta – Staff Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Ariza Agustina, menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa pahlawan emansipasi perempuan, tetapi juga saat yang tepat untuk merefleksikan berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan Indonesia hingga saat ini.
Hal tersebut disampaikan Ariza dalam acara Sarasehan Tokoh Perempuan dan Dialog Kebangsaan dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026 yang digelar di Kantor DPTP PKS, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, salah satu tantangan yang masih nyata adalah fluktuasi keterwakilan perempuan dalam politik, khususnya di lembaga legislatif, yang hingga kini belum mencapai kuota ideal sebesar 30 persen.
“Di Hari Kartini, kita tidak hanya mengenang sosok Raden Adjeng Kartini, tetapi juga merefleksikan kembali berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan Indonesia hingga hari ini. Salah satunya fluktuasi persentase keterwakilan perempuan dalam politik, terutama di lembaga legislatif yang belum mencapai kuota 30 persen,” ujarnya.
Ariza menambahkan bahwa perjuangan Kartini dalam bidang pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir sejatinya belum selesai.
Meskipun gerakan menuju kesetaraan semakin kuat, berbagai hambatan struktural dan budaya masih menjadi kendala bagi perempuan untuk berkembang secara optimal.
Ia menyoroti masih adanya berbagai bentuk kekerasan, stigma, diskriminasi, hingga keterbatasan akses perempuan dalam kepemimpinan.
Oleh karena itu, semangat perjuangan Kartini harus terus dihidupkan melalui langkah nyata dan berkelanjutan dari seluruh elemen bangsa.
“Dibutuhkan komitmen bersama untuk memperkuat kebijakan yang berpihak pada kesetaraan gender, membuka ruang kepemimpinan yang lebih luas bagi perempuan, serta menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif agar perempuan dapat berkontribusi secara optimal dalam berbagai sektor kehidupan,” jelasnya.
Dalam paparannya, Ariza juga menyinggung fenomena sticky floor, yaitu kondisi ketika pekerjabkhususnya perempuan terjebak pada posisi jabatan rendah dalam struktur organisasi dengan mobilitas karier yang terbatas.
“Fenomena sticky floor, di mana sekelompok pekerja terjebak di posisi jabatan rendah dalam hierarki organisasi, bergaji rendah dengan mobilitas rendah, serta memiliki peluang kecil untuk mendapatkan promosi dan kemajuan karier, adalah gambaran kondisi perempuan yang terkendala hambatan struktural dan budaya,” terangnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan fenomena glass ceiling, yakni hambatan tidak terlihat yang menghalangi perempuan untuk mencapai posisi kepemimpinan tertinggi akibat diskriminasi dan stereotip gender.
Anggapan bahwa perempuan bersifat emosional, menurutnya, sering kali membuat kapasitas kepemimpinan perempuan diragukan, terutama dalam pengambilan keputusan strategis dan krusial.
“Terlebih lagi adanya peran ganda yang tidak jarang membuat perempuan harus memprioritaskan keluarga dibandingkan karier, sehingga peluang pengembangan diri menjadi terbatas,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ariza memaparkan bahwa berbagai kebijakan dan program Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) terus diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak melalui penguatan kesetaraan gender di berbagai bidang, mulai dari sosial, ekonomi, hingga politik.
Program tersebut juga mencakup upaya membangun lingkungan yang aman dari kekerasan seksual, fisik, maupun psikis, termasuk penelantaran, serta penyediaan layanan komprehensif bagi korban kekerasan, pendampingan hukum, dan perlindungan khusus bagi anak.
“Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak merupakan upaya untuk memampukan perempuan, melindungi perempuan dan anak dari kekerasan dan diskriminasi, serta memastikan pemenuhan hak-hak mereka. Ini adalah wilayah kerja multidimensi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Ariza menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut sekaligus mengucapkan selamat atas momentum penting bagi organisasi politik dan sayap perempuannya.
“Terakhir, saya ingin mengucapkan selamat menyelenggarakan Milad PKS yang ke-24 dan selamat juga untuk organisasi perempuan Adil Sejahtera yang akan diluncurkan,” pungkasnya