Info Seputar Crisis Center for Rohingya. Klik di sini!

Berita PKS

Sohibul Iman: Calon Pemimpin Perlu Kuasai Teknologi

14 Jul 2017 | 15:52 WIB

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman

Ambon (14/7) - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman mengajak kepada seluruh kader PKS agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi. Hal ini disampaikan oleh Sohibul Iman dalam acara Sekolah Kepemimpinan Partai (SKP) PKS di Maluku pada Jumat (4/7/2017).

Selain menjelaskan mengenai pentingnya memanfaatkan teknologi, Sohibul Iman juga menerangkan mengenai tantangan yang harus dihadapi oleh calon-calon pemimpin dimasa yang akan datang.

“Perkembangan teknologi akhir-akhir ini juga menyebabkan masalah sosial yang kompleks. Kemudian, kemanjuan teknologi ini juga menyebabkan pengawasan rakyat semakin ketat, sehingga semua masyarakat bisa megevaluasi kepemimpinan siapapun. Maka, diera ini diperlukan pemimpin yang uptodate terhadap perkembangan teknologi dan pemimpin yang berprestasi,” terang Sohibul.

Menurut Sohibul, pembekalan yang dapat mengembangkan kemampuan dari para calon pemimpin sangat diperlukan, khususnya pembekalan teknologi.

Selain itu, pembekelan yang diberikan melalui SKP juga untuk menyatukan Visi bersama dari setiap calon pemimpin. Sehingga, cita-cita besar yang dimiliki oleh PKS dapat diwujudkan bersama.

“SKP juga dapat menyatukan visi kolektif kita yang demikian luar biasa. Yakni, mewujudkan cita-cita nasional yang ada dalam pembukaan Undang Undang Dasar 45 yang dibahasakan dengan ‘Mewujudkan Masyarakat Madani yang Adil dan Bermartabat,” ujarnya.

Sohibul juga berharap, SKP ini mampu mewujudkan pemimpin yang mampu memberikan kebermanfaatan yang banyak kepada masyarakat dan bangsa. Karena, menurut Sohibul PKS memiliki cita-cita yang mulia untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang berkontribusi terhadap peradaban.

“Semoga, melalui kepemimpinan kita, kita dapat mewujdukan flatfrom kolektif kita. Yakni, kita wujudkan Indonesia menjadi kontributor peradaban dunia. Bukan menjadi negara konsumen peradaban.” Tutupnya.