Berita PKS

Rusunawa Jangan Jadi Kantong Kemiskinan Baru di Jakarta

03 Jan 2017 | 13:57 WIB

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

Jakarta (03/01) – Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) yang menjadi tempat relokasi warga korban penggusuran di berbagai wilayah berpotensi menjadi kantong-kantong kemiskinan baru. Bahkan kemiskinan yang dialami bisa lebih parah dari lokasi sebelumnya yang digusur. Demikian disampaikan Juru Bicara pasangan calon Anies-Sandi, Triwisaksana di Jakarta, Jum’at (30/12/2016).

Lebih jauh, pria yang karib disapa Bang Sani ini mengatakan, hal ini disebabkan biaya hidup yang semakin tinggi di Rusunawa sementara pendapatan tidak bertambah, bahkan sebagian berkurang jauh. Ia juga mengungkapkan, menurut data BPS periode September 2015- Maret 2016 menunjukan jumlah penduduk miskin meningkat pada periode dimana penggusuran banyak dilakukan.

“Jumlah penduduk miskin pada September 2015 berjumlah 368.670 orang meningkat menjadi 384.300 pada Maret 2016,” ungkapnya.

Penghuni Rusunawa, masih menurut Triwisaksana, rata-rata harus mengeluarkan biaya lebih banyak dibanding tempat tinggal sebelumnya karena saat ini harus membayar sewa rumah cukup tinggi untuk ukuran ruangan yang tidak besar, biaya listrik yang yang lebih dari dua kali lipat dibanding sebelumnya dan air bersih yang juga meningkat dua kali dibanding sebelumnya. Kenaikan biaya yang paling besar dirasakan untuk biaya transportasi untuk bekerja maupun ke sekolah yang bisa melonjak 5 kali lipat.

“Penyediaan bus yang katanya gratis dari Transjakarta tidak sesederhana yang dibayangkan dalam membantu transportasi warga. Karena kedatangan bus yang jarang dan juga waktu yang tidak sesuai dengan waktu keberangkatan ke tempat kerja dan sekolah. Akibatnya warga harus tetap mengeluarkan biaya sendiri,” terang pria yang juga Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari PKS ini.

Ia pun menambahkan, warga yang ditempat tinggal semula bisa berdagang atau usaha rumah tangga, sekarang ini menjadi sulit di Rusunawa karena sepi pembeli. Pendapatan berkurang sementara biaya bertambah tinggi, akibatnya banyak dari mereka yang terpaksa berhutang dan sebagian menunggak membayar sewa rusun atau membayar listrik.

Politisi PKS dari daerah pemilihan Jakarta Selatan ini mengingatkan, untuk perlu mengidentifikasi betul kebutuhan para penghuni rusunawa dan menyediakan sarana dan fasilitas yang dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi yang menyebabkan meningkatnya biaya dan berkurangnya penambahan.

“Selanjutnya, jika akan melakukan relokasi penduduk, perlu dikaji betul jangan sampai relokasi justru menimbulkan kemiskinan baru dan bertambahnya jumlah penduduk miskin,” sambung Triwisaksana.

Ia juga mendukung janji kerja pasangan Anies-Sandi untuk membangun Kampung Susun, Kampung Deret, Rumah Susun dan mempermudah akses kepemilikan bagi warga tidak mampu sebagai solusi bagi warga yang tinggal di lingkungan padat penduduk, ketimbang melakukan penggusuran dan relokasi ke rusunawa.

“Program ini diyakini akan membuat warga lebih baik kualitas hidupnya dan lebih berbahagia,” tutupnya.