Berita PKS

Pengamat Sebut PKS Ningratnya Oposisi

18 Nov 2019 | 14:51 WIB

Share: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

thumbnail

Jakarta (18/11) -- Pengurus PKS sebelumnya telah mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.

Mantan Rektor Universitas Paramadina ini menyebut partainya terus membuka komunikasi dengan partai mana pun.

"Komunikasi terus kami lakukan dengan partai-partai, baik itu partai di parlemen maupun non parlemen."

"Baik partai di dalam pemerintahan maupun partai di luar pemerintahan," jelas Sohibul Iman.

Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menilai rencana pertemuan Tommy Soeharto dengan PKS, tak lepas dari keberadaan PKS sebagai 'oposisi darah biru'.

"PKS ini kan 'oposisi darah biru', oposisi yang bukan karena keadaan."

"Jadi maksudnya oposisi yang memang sudah berkomitmen sejak lama akan menjadi oposisi pemerintahan Jokowi," ujar Hendri ketika dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (16/11/2019).

Hendri mengatakan, PKS dapat juga disebut sebagai oposisi sejati.

Sebab, peran tersebut sudah dilakukan sejak lima tahun lalu atau di periode pertama kepemimpinan Jokowi.

Selain itu, Hendri mengatakan apabila ada partai politik yang tidak merapat kepada koalisi Jokowi, tentu akan secara otomatis mendekati PKS.

Menurutnya, tak ada partai politik lain yang lebih oposisi dari PKS.

Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Demokrat, tak masuk dalam kategori tersebut karena berusaha menjadi bagian dari koalisi.

"Bahkan, partai koalisi pun kalau ingin berkomunikasi dengan oposisi ya berkomunikasinya dengan PKS dulu. Kenapa? Karena mereka ini ningratnya oposisi," ulasnya.

Founder lembaga survei KedaiKOPI tersebut menuturkan, pertemuan Tommy Soeharto lebih dikarenakan Partai Berkarya tak lolos ke Senayan dan ingin menjadi oposisi.

"Berkarya ini kan partainya enggak lolos ke DPR, punya wakil di daerah-daerah dan ingin jadi oposisi. Kemudian harus berbicara ke siapa? Ya ke PKS," papar Hendri.

Sebelumnya, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman mengungkapkan cerita di balik rangkulannya dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, akhir Oktober lalu.

Menurut Sohibul Iman, rangkulan tersebut berawal dari obrolan pada sebuah acara yang diadakan oleh DPR.

"Awal perbincangan saya sampai terjadi rangkulan kebangsaan dengan Bang SP (Surya Paloh) itu adalah justru dari obrolan dari beliau," ujar Sohibul Iman di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (16/11/2019).

Saat itu, katanya, Surya Paloh menyinggung soal adanya kader radikal di PKS.

Kepada Sohibul Iman, Surya Paloh mengatakan sebenarnya banyak kader yang potensial di PKS.

"Dinda, Abang ini tahu orang-orang pintar banyak di PKS, dan Abang suka dengan itu, cuma Abang tidak suka kalau mereka sudah radikal," ungkap Sohibul Iman menirukan perkataan Surya Paloh.

Pernyataan Surya Paloh tersebut langsung dibantah Sohibul Iman. Dirinya menantang balik Surya Paloh untuk membuktikan ucapannya.

Sohibul Iman siap melacak kadernya yang radikal, jika Surya Paloh melaporkan kepada dirinya.

Dirinya malah menjamin yang bergabung ke partainya justru menjadi moderat.

"Saya langsung koreksi pada beliau, 'Bang, tolong jangan sembarangan bicara."

"Kalau Abang mendengar orang radikal kemudian diidentifikasi orang PKS, silakan lapor kepada saya, nanti saya akan lacak'," tutur Sohibul Iman.

"Sampai saat ini setiap yang masuk kenapa mereka keluar menjadi moderat," tambah Sohibul Iman.

Pertanyaan Surya Paloh tersebut sebelumnya sudah dilontarkan saat pernikahan putera Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka. Dan, Sohibul Iman menjawab hal yang sama.

Akhirnya, terjadilah pertemuan selama dua jam antara Surya Paloh dan Sohibul Iman.

Dalam pertemuan itu, Sohibul Iman meluruskan stigma yang dilekatkan kepada partainya.

Hingga akhirnya Surya Paloh yakin PKS tidak radikal seperti yang selama ini dianggap beberapa pihak. Hingga pertemuan diakhiri dengan rangkulan antara keduanya.

"Di situ kita jelaskan imajinasi orang tentang PKS dan di situ lah Bang Surya merasa ada keyakinan tentang PKS ini."

"Maka terjadi lah pertemuan dan terjadi rangkulan rangkulan sampai sekarang menjadi isu," beber Sohibul Iman.

Sumber: wartakota.tribunnews.com

Berita Terkait