Info Seputar Crisis Center for Rohingya. Klik di sini!

Berita PKS

Mengenal Ritno, Penyulap Sarang Pembalakan Liar Jadi Desa Wisata

30 Apr 2017 | 19:51 WIB

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman menyerahkan PKS Award kepada Ritno Kurniawan, pelopor kategori lingkungan hidup.

Jakarta (30/4) - Maraknya aksi pembalakan liar baik oleh individu warga maupun korporasi menyebabkan luas hutan lindung di Indonesia kian berkurang. Belum lagi akibat tuntutan deru pembangunan dan industri.

Peristiwanya terjadi di banyak wilayah hutan konservasi di Tanah Air. Pembalakan liar menjadi aktivitas pelanggaran hukum yang sulit diberantas di negeri ini.

Di tengah mirisnya kondisi hutan di Indonesia, di Sumatera Barat muncul sosok pemuda yang memiliki kepedulian lingkungan sangat tinggi. Cara dia menghadapi agresifitas kegiatan pembalakan liar sangat inspiratif.

Namanya Ritno Kurniawan, pemuda pemberani yang mampu mengubah ancaman pembalakan liar justru menjadi berkah bagi lingkungan dengan menjadikannya hutan wisata. Ia memiliki semangat kepeloporan untuk menaklukkan hutan yang menjadi incaran penebangan liar.

Selepas lulus kuliah dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Ritno sengaja tidak memilih jalan nyaman seperti kebanyakan teman-teman seangkatannya. Jalan yang dipilihnya justru tidak aman, penuh resiko dan bahkan tidak menguntungkan secara materi.

Ritno menuturkan, aktifitas pembalakan liar di kampungnya begitu marak. Ironisnya, kegiatan melanggar hukum itu dilakukan masyarakat yang justru seharusnya merawat dan melestarikan alam melalui kearifan lokal.

"Tapi yang terjadi sebaliknya. Di daerah tak jauh dari saya sering terjadi ilegal logging, "tutur Ritno saat berbincang dengan reporter pks.id di arena Milad ke 19 PKS di Hotel Sahid, Jakarta, Ahad ( 30/4/2017).

Ritno mengisahkan awal kali dirinya memulai usaha perbaikan lingkungan tersebut. Lelaki berjenggot itu giat melakukan sosialisasi bahaya pembalakan liar dengan mendekati warga. Ritno menewarkan ide tentang desa wisata, daripada membalak hutan. Penolakan dari warga justru kerap diterimanya.

"Baru diterima warga. Padahal waktu itu belum ada kekuatan juga, he...," katanya yang berharap wisata hutan yang ia kelola menjadi desa wisata layaknya Raja Ampat.

Saat ini ia bersyukur karena perlahan demi perlahan banyak warga sadar lingkungan hidup dan meninggalkan dunia hitam penebangan liar. Bahkan Ritno berhasil merekrut warga menjadi pemandu wisata. Hingga kini jumlahnya mencapai 166 orang.

"Mereka dulunya adalah penebang kayu. Sekarang bawa pengunjung per orang lebih menguntungkan daripada bawa kayu," ujarnya.

Atas kerja kerasnya, penghargaan demi penghargaan diraihnya. Seperti dari Dinas Pariwisata Sumatera Barat, Kementerian Pariwisata, dan PT Semen Padang. Bahkan dalam kompetisi lingkungan hidup internasional, terobosan desa wisata ala Ritno mampu mengalahkan pesaing dari Uruguay dan Afrika.

Hari ini, penghargaan yang diperoleh Ritno bertambah. PKS menganugerahkan Ritno PKS Award 2017 dalam kategori Pemuda Lingkungan Hidup. Penghargaan tersebut diberikan dalam Milad ke 19 PKS di Hotel Sahid Jakarta.

Ritno sangat mengapresiasi kepedulian yang ditunjukkan PKS, menunjukkan PKS sangat peduli dengan isu lingkungan hidup.

"Termasuk partai yang sangat peduli lingkungan. Pemuda dan lingkungan sangat sejalan di PKS. Terlihat dari setiap aksi yang membuang sampah pada tempatnya sebagai SOP dasar," ungkapnya.

Selamat Ritno!