Berita PKS

Kekerasan di Dunia Pendidikan Kian Marak, Caleg Muda PKS: Revolusi Mental Hanya Jargon

12 Feb 2019 | 10:00 WIB

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail Caleg Muda PKS, Ahmad Fathul Bari

Jakarta (11/02) -- Beberapa hari yang lalu, dunia pendidikan kembali digegerkan dengan adanya kasus kekerasan yang dilakukan oleh murid kepada gurunya. Kejadian ini membuat semua orang miris termasuk Jubir PKS Muda, Ahmad Fathul Bari.

Fathul Bari mengungkapkan sangat prihatin dengan kejadian tersebut. Menurut Caleg PKS Dapil NTT 2 ini, kejadian tersebut menjadi catatan penting untuk pemerintah khususnya dalam program gerakan revolusi mental.

"Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang berkepribadian luhur dan memiliki landasan budaya yang kuat. Namun sayangnya, gerakan revolusi mental yang selama ini dijalankan, gagal menyentuh pembenahan yang subtantif. Yang ada hanya pembenahan karakter yang sifatnya artifisial dan rapuh. Pada era pemerintah Jokowi-JK kasus kekerasan dalam dunia pendidikan banyak sekali ya, tentu hal ini jadi perhatian banyak pihak, Sekolah, Dinas Kementrian terkait dan tentunya pemerintah khususnya gerakan revolusi mental," ungkap lelaki yang akrab disapa Bari ini, di Jakarta, Senin (11/02/2019) kemarin.

Politisi Muda PKS ini menyebutkan, gerakan revolusi mental yang digadang-gadangkan oleh pemerintah Jokowi-JK belum dapat terimplementasikan dengan baik. Hal ini, lanjut Bari, tampak dari bermunculannya kekerasan di institusi pendidikan karena belum adanya kebijakan yang aplikatif dan menyentuh langsung kepada guru dan murid.

"Pemerintah perlu mengevaluasi kembali gerakan revolusi mental. Sudah banyak kasus kekerasan di institusi pendidikan kita ya. Seharusnya pemerintah mengevaluasi, apakah gagasan revolusi mental sudah masuk dalam institusi pendidikan kita, atau itu hanya menjadi jargon biasa yang diiklankan melalui tv dan radio, tapi wujudnya dalam kebijakan tidak ada," kata Caleg nomor urut 1 ini.

Lelaki yang pernah menjabat sebagai Ketua BEM Universitas Indonesia ini menambahkan, masalah kekerasan di dalam institusi pendidikan menjadi masalah serius yang harus segera ditindak oleh pemerintah.

Oleh karenanya, Bari menyebutkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusung oleh PKS, Prabowo-Sandi sangat konsen dengan masalah tersebut. Prabowo-Sandi, lanjut Bari akan membuat program Aksi Pendidikan Berkualitas guna menciptakan generasi-generasi yang unggul.

"Untuk menangani kegagalan tersebut, kami akan benahi melalui suatu upaya yang menjadikan keragaman seni budaya Indonesia sebagai kekuatan pemersatu bangsa, menjamin pengembangan sumber daya kreatif dan membentuk generasi dengan karakter berdasaran nilai-nilai luhur bangsa. Pembentukan karakter penerus bangsa ini menjadi penting, karena mereka kedepan akan menentukan dalam pengambilan kebijakan," ungkap Bari.

Program Aksi Pendidikan Berkualitas ini akan disebar pada seluruh tingkatan pendidikan. Bahkan tidak saja berhubungan dengan murid dan guru, namun juga memperhatikan sarana penunjang pendidikan lainnya, tambah Bari.