Berita PKS

Hari Pangan Sedunia, Gizi Buruk Menjadi Tantangan Serius Bagi Pemerintah

17 Oct 2019 | 10:39 WIB

Share: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

thumbnail Anggota DPR RI, Nevi Zuairina (kanan)

Jakarta (17/10) -- Anggota DPR RI, Nevi Zuairina menanggapi hari pangan sedunia yang seharusnya dilaksanakan tiap tanggal 16 Oktober, namun di undur akibat menunggu pelantikan presiden baru, menyoroti adanya masalah gizi buruk yang menjadi salah satu permasalahan pangan.

Legislator Sumatera Barat II ini mengatakan, bahwa gizi buruk di Indonesia ini tidak menular, tapi sangat menghantui pada tahun 2019. Catatan Riset Kesehatan Dasar 2018, menunjukkan adanya perbaikan status gizi buruk pada balita di Indonesia. Proporsi status gizi sangat pendek turun dari 37,2 persen (Riskesdas 2013) menjadi 30,8 persen (Riskesdas 2018). Namun meski ada perbaikan, oleh WHO masih dinilai masih kurang signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas prevalensi 20 persen untuk gizi buruk.

"Pangan adalah Hak setiap jiwa, Negara harus hadir dan mewujudkan ketahanan pangan di Keluarga. Dari perwujudan ketahanan pangan yang diumulai dari keluarga, mudah-mudahan angka prevalensi gizi yang standard WHO dapat kita penuhi", kata Nevi di Jakarta, Rabu (16/10/2019) kemarin.

Legislator Perempuan dari PKS ini menerangkan, bahwa sumber daya lokal, yang dapat diterapkan sebagai menu keluarga sehari-hari, menggunakan bahan pangan yang mudah diperoleh di sekitar kita. Pemenuhan bahan pangan ini tentunya sesuai dengan Pedoman Gizi seimbang (anjuran Angka Kecukupan Gizi/AKE rata-rata perkapita 2150 kkal/hari).

Nevi menambahkan, saat ini yang lebih menakutkan dari gizi buruk di Indonesia, adalah adanya stunting akibat kurang gizi yang kronis dimana anak-anak tingginya tidak tumbuh (terlalu pendek) akibat kurang nutrisi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia pada 2017. Angkanya mencapai 36,4 persen. Namun, pada 2018, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angkanya terus menurun hingga 23,6 persen.

“Melalui Hari Pangan Dunia ini,  saya secara pribadi meminta kepada pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia untuk dapat memerdekakan masyarakat kita dari ancaman gizi buruk dan adanya stunting yang terus mengancam anak-anak Indonesia”, tutup Nevi Zuairina.


Berita Terkait