Berita PKS

Dalam 3 Tahun Terakhir Laju Pengurangan Jumlah Penduduk Miskin Indonesia Semakin Memprihatinkan

30 Nov 2017 | 10:06 WIB

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

Oleh

Ir. Memed Sosiawan, ME

Ketua Bidang Ekuinteklh DPP PKS

Indonesia adalah negara di dunia yang termasuk sukses dalam mengurangi jumlah penduduk miskin, terutama sejak jaman kemerdekaan. Laju pengurangan jumlah penduduk miskin berjalan secara progresif sejak pemerintahan Orde Baru, sukses tersebut dilanjutkan semakin mantap pada masa Reformasi terutama masa Presiden Habibie, Megawati, dan Abdurrahman Wahid.

Namun pada masa Presiden SB. Yudhoyono (SBY) mulai terlihat adanya perlambatan pengurangan jumlah penduduk miskin, bahkan dalam tiga tahun terakhir pada masa Presiden Jokowi (JKW) laju pengurangan jumlah penduduk miskin semakin memprihatinkan.

Pada akhir Orde Lama (1970), jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai sekitar 70 juta jiwa atau 60% dari jumlah penduduk Indonesia. Program pengentasan kemiskinan yang mulai dijalankan secara progresif pada jaman Orde Baru terutama dari tahun 1976 sampai berakhirnya masa Orde Baru pada 1998 telah berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin dari 54,2 juta jiwa (40,10%) menjadi 49,50 juta jiwa (24,20%). Selama 22 tahun masa tersebut (1976-1998) telah berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin sebanyak 4,7 juta jiwa dengan laju pengurangan 214 ribu jiwa pertahun (0,723% pertahun).

Masa Orde Baru kemudian dilanjutkan dengan masa Reformasi. Selama enam tahun masa awal Reformasi sejak 1998-2004, setelah melewati masa konsolidasi politik, program pengentasan kemiskinan dijalankan kembali. Program pengentasan kemiskinan yang dijalankan selama enam tahun awal reformasi juga berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin dari 49,50 juta jiwa (24,20%) menjadi 36,15 juta jiwa (16,66%).

Selama 6 tahun awal reformasi (1998-2004) telah berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin sebanyak 13,35 juta jiwa dengan laju pengurangan 2,225 juta jiwa pertahun (1,257%), suatu pengurangan jumlah penduduk miskin yang besar, sekitar tiga kali lipat pencapaian prestasi masa Orde Baru selama 22 tahun, berhasil dicapai pada masa awal Reformasi hanya selama 6 tahun.

Selama masa pemerintahan SBY, program pengentasan kemiskinan yang dijalankan juga berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin dari 36,15 juta jiwa (16,66%) menjadi 27,73 juta jiwa (10,96%). Selama masa 10 tahun pemerintahan SBY (2004-2014) juga berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin sebanyak 8,42 juta jiwa dengan laju pengurangan 842 ribu pertahun (0,57% pertahun).

Pencapaian prestasi pengurangan jumlah penduduk miskin jaman SBY selama 10 tahun masih sepertiga dari prestasi yang berhasil dicapai pada awal Reformasi. Pencapaian pengurangan jumlah penduduk miskin masa awal Reformasi ternyata belum bisa dilanjutkan prestasinya oleh masa pemerintahan SBY, bahkan pada masa pemerintahan JKW prestasi pengurangan jumlah penduduk miskin semakin memprihatinkan.

Selama tiga tahun masa pemerintahan JKW banyak program yang diluncurkan terkait pengentasan kemiskinan, antara lain: Program Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dengan capaian 5,9 juta keluarga; Program Kartu Indonesia Sehat (KIS) dengan capaian 92,2 juta orang; dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dengan capaian 18,9 juta siswa. Namun sangat disayangkan program-program tersebut belum berkorelasi langsung terhadap pengurangan jumlah penduduk miskin bahkan terjadi penambahan jumlah penduduk miskin.

Selama dua tahun dari 2014-2016, terjadi penambahan jumlah penduduk miskin dari 27,73 juta jiwa (10,96%) menjadi 27,76 juta jiwa (10,70%). Bahkan pada bulan maret 2017 jumlah penduduk miskin masih bertambah menjadi 27,77 juta jiwa. Selama dua tahun ada penambahan penduduk miskin sebesar 30 ribu jiwa, dengan laju penambahan jumlah penduduk miskin sebesar 15 ribu pertahun, meskipun secara prosentase terhadap total penduduk Indonesia terdapat laju pengurangan jumlah penduduk miskin sebesar 0,13% pertahun.

BPS (Update: 21/07/17): Jumlah Penduduk Miskin, Presentase Penduduk Miskin, dan Garis Kemiskinan, 1970-2017 (Diolah).