Info Seputar Crisis Center for Rohingya. Klik di sini!

Berita PKS

Bunda Difabel yang Mengundang Haru Biru

02 May 2016 | 16:27 WIB

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail Galuh Sukmara Soejanto, S.Psi saat mengisi Diklat Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahad (1/5). Foto: Tyarin

Ada pemandangan spesial dan berbeda dalam pertemuan pendidikan dan latihan (diklat) yang diadakan oleh Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahad (1/5) kemarin. 

Adalah seorang Galuh Sukmara Soejanto, S.Psi yang membuat decak kagum ketika menyampaikan materi “Best Practice Membangun Jaringan” motivasi kepada para ibu di aula Gedung DPP PKS  Jl TB Simatupang no 82, Jakarta Selatan. Pasalnya, Bunda Galuh, demikian ia disapa, adalah seorang pengidap different ability (difabel) atau pengidap keterbatasan aktivitas fungsi tubuh atau strukturnya. Dalam hal ini ia adalah seorang tunarungu.

Di tengah keterbatasan yang dianugerahkan Allah kepadanya, tak menyurutkan dirinya untuk terus berprestasi.  Pernah membuat prototype aplikasi Az-Zahra sebagai aplikasi pembelajaran Al-Qur’an, Hadis, Kisah-kisah nabi dan sahabat, Dhikir, Adhan dalam bahasa isyarat pertama di dunia dipresentasikan di Global Deaf Muslim Conference di Qatar pada tahun 2013. Selain itu juga menjadi penerima beasiswa dalam program Asia Pacific Leadership Training Program for People with Disabilities oleh Perusahaan Duskin di Jepang dan masih banyak lagi.

“Dengan melatih tim atau orang lain sebenarnya dia sedang melatih dirinya sendiri. Kesadaran bahwa dia harus terus belajar memampukan dirinya, sebelum memampukan orang lain.  Kesadaran bahwa dia harus mendidik dirinya sebelum mendidik orang lain,” katanya dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah yang duduk menghadap panggung.

Para peserta tertegun, sekali waktu mengangguk-angguk. Seusai memberikan materi, para peserta diminta bertanya kepada The Founder and Principal of First Sign Bilingual Homeschooling itu. Tak lama, seorang perempuan memegang mike dengan tangan bergetar menyampaikan kekagumannya pada Master of Sign Linguistics dari La Trobe University, Melbourne itu. Namanya Erniwati (45).

Suara muslimah dari DPD PKS Jakarta Selatan itu agak tersendat-sendat, samar-samar terdengar. “Saya berterima kasih bisa hadir di sini (kantor DPP PKS),  karena bisa bertemu dengan Bunda (Galuh)  yang menurut saya luar biasa. Membuat saya,” kalimatnya tertahan, “membuat  saya ingat dengan anak saya yang di rumah yang memiliki kesamaan-kesamaan, tunarungu,” ucapnya. Air matanya tak mampu lagi dibendung. Tumpah.

Bunda Galuh pun beranjak dari panggung. Lalu mendekat ke Erniwati. Dipeluk dan didekat hangat. Ruangan menjadi mengharu biru.

Mengikuti diklat BPPK yang menghadirkan Bunda Galuh memberikan arti bagi seorang Erniwati. Ia menjadi lebih optimis menghadapi kehidupan ini.

“Saya lebih optimis. Memiliki anak tunarungu bisa juga menjadi orang yang berprestasi, memberikan kontribusi untuk bangsa negara, bila dia diberi kesempatan. Karena setiap orang Allah kasih potensi-potensi, bila potensi tersebut  diberi kesempatan berkembang, disupport dia tentu bisa berprestasi dan berkontribusi,” ucap ibu dari anak difabel berusia 7,5 tahun itu.

Kekaguman serupa disampaikan oleh salah seorang peserta, Ellina Supendy. “Masya Allah, malunya saya berjumpa dengan seorang Galuh Sukmara. Seorang muslimah yang menderita disabilitas tuna rungu dengan segudang prestasi dan ilmu yang bermanfaat untuk orang banyak. Sementara di usia saya saat ini. Apa yang sudah saya lakukan untuk masyarakat?” ungkap peraih Ummi Award 2008 itu.