Berita PKS

Berhasil Mengubah Jabar, Aher dan Netty Raih Penghargaan PWI

26 Feb 2018 | 10:52 WIB

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

Bandung (26/2) - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan istrinya, Netty Prasetiyani Heryawan dianugerahi penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jabar, saat puncak peringatan hari Pers Nasional Tingkat Jabar tahun 2018, yang digelar di hotel Asrilia Kota Bandung, Jumat (23/2/2018) malam.

Orang nomor satu di Jabar beserta istri dinilai PWI memiliki andil besar di bidangnya masing-masing dalam usaha memajukan provinsi Jabar. Selama 10 tahun atau dua periode kepemimpinannya, Gubernur Aher telah membangun perubahan Jabar yang lebih baik dalam berbagai sektor. Sebanyak 500 lebih penghargaan pun telah diraihnya sampai sekarang. Sebelumnya, pada bulan Maret 2017 lalu, PWI pusat juga telah menganugerahi penghargaan tertinggi PWI untuk Aher yaitu Pena Emas.

Sementara, Netty Prasetiyani Heryawan dinilai PWI, sebagai bunda literasi Jabar yang terus berkiprah meningkatkan budaya membaca masyarakat, melawan hoax dan meningkatkan ketahanan keluarga. Hal tersebut sejalan dengan visi dari PWI.

Ditemui usai menerima penghargaan, Gubernur Aher berharap, peringatan hari Pers nasional mampu membangkitkan semangat khususnya pers di Jabar untuk senantiasa menghadirkan pers yang sehat, netral dan bersinergi dengan pemerintah dalam memajukan Jabar. Pers menurutnya salah satu stakeholders yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan suatu negara. Mulai dari penyaji informasi, hiburan, pembentukan moral masyarakat, kontrol sosial hingga pengawal pemerintah.

"Pers memegang peranan sangat penting sebagai garda terdepan dalam mengawal proses pembangunan," ujarnya.

Dikatakannya, seiring perkembangan zaman, pers pun dituntut beradaptasi dengan derasnya arus globalisasi. Bahkan saat ini ancaman tidak hanya berasal dari hal yang bersifat tradisional melalui kekuatan militer atau peperangan. Ancaman dari cyber dan hoax, kini justru menjadi salah satu ancaman utama yang dapat memecah belah bangsa atau lebih dikenal dengan proxy war.

"Di sinilah pers dituntut memainkan perannya sebagai penengah dengan memberikan informasi yang benar dan apa adanya serta yang tidak kalah pentingnya adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat khususnya kepada pemerintah," kata Aher.

Menurutnya, hal itu tidak berlebihan mengingat banyaknya pemberitaan yang diluar kontrol dan dalam waktu sekejap berita tersebut tersebar luas.

"Dengan kata lain pers harus selalu mempertahankan konsep tabayyun seperti yang selalu saya singgung dalam berbagai kesempatan," ucapnya.