Berita PKS

Asam Manis Perjalanan Menghafal Al-Qur’an Anak Kedelapan

20 Jun 2016 | 16:51 WIB

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail Saihul Basyir Putra Kedelapan Ketua BPKK Wirianingsih

“Menghafal nggak perlu banyak-banyak kok. Cukup 30 juz saja,” kata laki-laki muda berkacamata itu saat ditemui di MD Building, Jakarta Selatan, Jumat (17/6).

Ia baru saja mengisi kajian di Sekolah Analis Kimia, Jakarta Timur. Di sana ia memaparkan banyak hal tentang Al-Qur’an. Di mana level kewajiban muslim terhadap Al-Qur’an ada beberapa level yakni membaca, menghafal, memahami, mengamalkan dan mengajarkan.

Namanya Muhammad Saihul Basyir. Ia tak lain adalah anak dari Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Wirianingsih.

“Karakter cinta Al-Qur’an ditanamkan sejak kecil banget oleh bapak ibu,” ucap mahasiswa semester tiga jurusan Syariah LIPIA Jakarta ini.

Waktu masih kecil di rumahnya setiap hari selalu disetel murottal Al-Qur’an melalui kaset atau radio. Bapaknya ketika umrah atau ketika ada tetangga umrah selalu nitip kaset murottal Syeikh Sudais dan imam-imam Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

“Sampai saat ini kebiasaan tersebut tetap ada,” katanya.

Televisi memang ada tapi dibatasi, katanya, sehari hanya dua jam. “Paling nonton berita atau program-program bermanfaat,” ucapnya.

Yang ditekankan di keluarga adalah interaksi dengan Al-Qur’an. Target dari keluarganya biasanya target panjang, seperti setelah SMA sudah harus selesai hafalan 30 juznya ya. “Terserah bagaimana caranya, diserahkan ke kami. Bapak dan ibu ngasih rekomendasi dan tempat yang cocok untuk menghafal yang di situ ada program tahfidznya.” katanya Basyir yang menuntaskan hafalannya di SDIT Al-Hikmah Jakarta Selatan.

Ketika datang masa liburan sekolah biasanya langsung ditanya sama bapak dan ibunya sudah sejauh mana hafalan Al-Qur’annya. Dievaluasi satu-satu. Jika tidak memenuhi target akan dicarikan jalan keluarnya. Sementara bagi anggota keluarga yang masih SMA biasanya waktu liburan tidak benar-benar libur. Mereka biasanya dirumahqurankan.

“Hanya pindah tempat saja. Seperti adik perempuan yang terakhir, misalnya. Dia kan sekolah di Incen (Insan Cendekia Serpong) setiap pulang dia tidak di rumah. Masuk ke RQ (Rumah Qur’an) Depok yang punya Ustadz Muslih. Alhamdulillah akhir tahun kemarin selesai hafalannya.”

Dengan diterapkan amanah seperti itu dari orangtua, Basyir merasakan asam manis dalam menghafalkan Al-Qur’an. Menemukan keseruan namun juga beban. “Having fun bagus tapi beban bagus juga. Saya awal-awal juga beban, ngeluh mau pindah pesantren. Akhirnya pindah ke SDIT Al-Hikmah tapi diminta janji harus selesai hafalan, ya udah akhirnya selesai,” kata laki-laki yang mengaku  tidur hanya tiga jam sehari. 

Sesama saudaranya juga ada yang sangat tangguh, ada yang cengeng banget, katanya. Ada yang secara natural nggak cocok dengan pesantren maunya SMA negeri tapi janji mau menuntaskan hafalan Al-Qur’an dan akhirnya komitmen untuk menyelesaikan.

Menurutnya, target menghafal Al-Qur’an tidak sampai hanya menghafal saja. Sambil menghafal, sambil menjaga dan memahami. Ia menekankan pada diri untuk tidak pernah puas dengan capaian hafal sebelum memasuki ranah bagaimana menjaganya. Untuk menjaga itu butuh metode, katanya. Ia sendiri ketika kelas enam sempat melepas begitu saja hafalan 30 juznya tanpa menjaganya.

“Ketika disuruh baca ini dan itu tiba-tiba nggak bisa. Itu kan jadi beban dan dosa. Harus yakin dulu agar menjadi motivasi dasar kita. Ketika kita nanti memasuki proses murajaahnya kita merasa malas, kita letih, kita diyakinkan dengan ‘oh kita punya beban hafalan nih, kalau nggak murajaah nanti jadi dosa’. Paling tidak itu di luar motivasi lain,” kata anak Mutammimul Ula, mantan anggota DPR RI dari fraksi PKS ini. 

Bukan berarti segalanya berjalan lempeng, Basyir juga pernah mengalami masa futur.